Skip to main content

MAAF GUE LEMAH

 8 Desember 2025

Hari ini gue berhenti pura-pura jadi manusia yang utuh.Nggak ada topeng yang gue pakai hari ini yang ada cuma gue, pecah berantakan, dan dunia yang tetap jalan seolah hidup gue nggak pernah retak.

GUE CAPEEEEKK!!!!

Capek yang nggak bisa lo lihat dari mata gue karena semuanya sudah habis.

Capek sampai badan gue berasa kaya mau patah.

Capek sampai napas pun rasanya kayak hutang yang gue harus bayar tiap hari. TIAP HARI!

Buat orang-orang yang gue kecewain, maaf.

Buat orang-orang yang nganggep gue baik, maaf.

Buat ortu gue, maaf.

Buat keluarga besar gue bahkan setelah kalian ngancurin gue berkali-kali, refleks gue akan tetap minta maaf. Kayak gue diciptain cuma buat salah dan bayar dosa yang bahkan bukan dosa gue.

Buat temen-temen yang percaya sama gue, maaf kalau gue nggak bisa jadi versi kuat yang lo pikir gue punya.

Gue bangun tiap hari dengan kepala yang berisik, hati yang kosong, dan tubuh yang cuma bergerak karena udah kebiasaan. Gue perang sendirian, dan musuhnya adalah otak gue sendiri.

Setiap malam gue tidur dengan luka yang sama, dan setiap pagi gue bangun tanpa satu pun yang sembuh.

INI BUKAN DRAMA.

BUKAN CARI PERHATIAN.

Capek gue nyata dan ini nyerang gue di tempat-tempat yang nggak pernah lo lihat.

Dia ngikis gue pelan-pelan, kayak karat yang makan besi sampai habis. GUE CAPEK!

Gue nulis ini bukan buat minta dipeluk.

Bukan buat dikasihani.

Lagian blog ini juga nggak ada yang bakal baca.

Tapi kalau gue diem, rasa sakit ini cuma jadi suara sumbang yang muter di dada gue, dan gue nggak mau lagi hidup sebagai kotak hitam dari semua tragedi yang nggak ada yang peduli.

Apa gue selesai aja sama dunia? 


Comments

  1. semangat bro, di depan pasti ada kebahagian yang berlipat-lipat. It will pass!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

MAU JADI MAHASISWA YANG SEPERTI APA?

Dan awal mula cerita berorganisasi pun dimulai …. Euforia mahasiswa baru yang minggu ini mulai memadati kampus membuat saya kembali berkontemplasi, mengingat kembali awal menyandang gelar sebagai mahasiswa. Terlahir dari keluarga yang bukan masuk dalam daftar highclass yang duitnya pun nggak unlimited dan serentetan perjuangan gap years bahkan harus mencari kitab suci ke Pare demi menyandang gelar Mahasiswa membuat saya selalu bergairah diawal-awal saya kuliah that’s why menjadi Mahasiswa adalah salah satu hal yang prestisius bagi saya meskipun bagi sebagian orang itu adalah hal yang biasa saja. Karena keprestisiusan inilah yang menggiring saya pada sekelumit pertanyaan yang muncul tiba-tiba mengusik isi kepala, deretan pertanyaan itu saya simpulkan  menjadi satu pertanyaan “mau jadi mahasiswa yang seperti apa?” Dulu saat masih duduk di bangku sekolah dia pernah bilang bahwa menjadi mahasiswa adalah tentang berkuliah bukan tentang belajar seperti yang kau lakukan di...

Impulsifitas, Pengangguran, dan Frustasi

Spesies manusia tolol ini akhirnya mengutuk dirinya sendiri. Mengeluh, frustasi, dan sembunyi di balik idealisme yang kadang cuma jadi tameng rapuh. Gue sekarang kayak manusia super tertutup, worthless, dengan impulsifitas akut yang udah mendarah daging. Gue takut ketemu orang. Gue takut banget ngubungin temen. Gue takut minta tolong sama keluarga sendiri. Keluarga hahaha sudahlah jangan dibahas. Gue pura-pura keliatan baik-baik aja padahal pelan-pelan frustasi ini udah mulai ngerobek isi kepala. Lihat aja ngetik ini mata udah berat. Gue bisa nebak apa kata orang-orang kalau tau kondisi gue.  "Lu sekarang pengen kerja kemarin udah kerja lu cabut. Sekarang ngeluh lagi." Iyaaaaa GUE TOLOL! PUAS LO!  Padahal kalau mau flashback fase sekarang sebenernya bukan fase terburuk dalam hidup gue. Gue pernah ada di titik lebih parah. Baru lulus diploma dari Politeknik Negeri Bali. Corona datang. Wisuda online hambar. Lowongan kerja di ghosting. Job market kacau balau. Tabungan makin tipi...