Kita tahu, cepat atau lambat, akan ada perpisahan setelah sebuah pertemuan terjadi. Tapi tetap saja, kita selalu pura-pura lupa. Kan? Pak Frank adalah orang pertama yang membuka pintu itu untukku. Di saat aku sendiri bahkan ragu untuk mengetuk. Aku datang dengan gap, dengan cerita gagal yang terlalu panjang untuk dijelaskan di satu CV. Dengan rasa tidak layak yang diam-diam aku bawa ke mana-mana. Dan di antara banyak pintu yang tidak pernah benar-benar terbuka, beliau justru mengizinkan aku masuk. Aku masih ingat pagi itu .... Di sebuah meja di Hierarki Coffee, Renon. Kopi belum habis, tapi harapan sudah setengah aku tahan. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Aku baca. Aku diam. Aku senyum sedikit. Lalu seperti biasa, aku menurunkan ekspektasi karena aku sudah belajar, berharap terlalu tinggi itu berbahaya. "Sebab patah hati adalah kegagalan yang tidak pernah kita siapkan." Jadi aku hanya bilang dalam hati “Kalau ini untukku, dekatkan. Kalau bukan, kuatkan.” Di awal Desember itu, b...