Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2025

MICROTEACHING DAY WITH BALI QUICK TALK

31 Oct, 2025 - Amolas Cafe Hari ini aku bangun lebih pagi, meskipun semalam aku baru tidur larut setelah seharian menyiapkan bahan ajar dan materi. Aku sempat bingung harus menyampaikan apa untuk microteaching dengan waktu terbatas, tapi aku harus mengerahkan seluruh kemampuan mengajarku sambil tetap menanamkan nilai yang dibawa oleh platform yang akan aku masuki. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri “Alfa, apa yang paling kamu butuhkan saat ini?” Jawabannya sederhana “Arah.” Dari sana aku langsung memutuskan, DIRECTION akan menjadi tema microteaching-ku. Aku masih ingat hari pertama saat mendapat undangan interview, hujan deras, aku kebasahan, bahkan sempat nyasar ke Batu Belig, HAHAHAHA. Dari pengalaman itu aku sempat membuat peta kecil di kepala tentang Canggu. Lucu, tapi bermakna. Lalu aku teringat lagi motoku: “It’s not only about teaching the head, but also about touching the heart.” Aku ingin murid-muridku nanti juga belajar menyentuh hati mereka sendiri. Maka...

Sebuah Surat dari Antara Jatuh dan Pulih

  29 Oktober 2025 Dear Dika, Ginan, and Jessica, Jika ada satu hal yang harus kusampaikan pada kalian bertiga, maka aku akan meminjam kalimat Dika yang tadi ia ucapkan padaku  “Mungkin kamu adalah jawaban dari doaku untuk dipertemukan dengan orang baik.” Sudah tiga bulan aku berperang melawan rasa ketidakpantasan sebagai manusia, melawan ambisi menjadi “manusia Jakarta”, dan melawan kekalahan yang datang bertubi-tubi. Hasilnya? Kepercayaan diriku sempat hilang seluruhnya. Setelah aku memutuskan untuk melepaskan segalanya, aku berjalan tanpa cahaya. Entah berapa banyak lamaran kerja yang kukirim dari LinkedIn, Jobstreet, Glints, hingga Facebook, semuanya berakhir nihil. Seolah segala yang kubangun selama ini tak pernah menemukan kata layak, tak pernah jatuh pada tempat yang tepat. Akhir September 2025 menjadi titik nadir. Yap, penolakan pertama dari sebuah perusahaan di Jakarta Timur. Berjuang di Jakarta dengan segala keterbatasan membuatku hancur tanpa sisa. Dengan sisa tabung...

Sebuah Surat tak Terkirim

Halo Kak, Semoga Kakak dalam keadaan baik di sana. Aku menulis ini bukan untuk mengeluh, tapi untuk bercerita jujur tentang keadaanku akhir-akhir ini. Aku rasa, hanya dengan menulis seperti ini aku bisa sedikit bernapas. Saat ini aku sudah tidak memiliki pekerjaan tetap. Aku sempat melamar di beberapa tempat, tapi belum ada kabar yang baik. Di sisi lain, aku sedang membangun bisnis kecil-kecilan, kursus bahasa Inggris online, yang sebenarnya sangat aku cintai, karena aku bisa tetap mengajar dan merasa berguna. Tapi pendapatannya belum cukup stabil untuk menutup semua kebutuhan. Aku juga sedang berjuang menyelesaikan beberapa hutang pribadi dan keluarga. Kadang aku merasa lelah, bukan hanya karena uang, tapi karena ketidakpastian yang terus datang. Ada hari-hari di mana aku yakin bisa bangkit, tapi ada juga malam-malam di mana aku merasa semua ini terlalu berat untuk ditanggung sendiri. Aku sering bertanya ke diriku sendiri, Kak. Kenapa aku resign waktu itu? Kenapa aku begitu yakin meng...

Apakah Aku Masih Belum Berhak Bahagia?

Tahun 2025 datang seperti pukulan telak di wajah. Bukan hanya pukulan, tapi rentetan tinju tanpa jeda. Aku tidak sedang hidup dalam film sedih dengan musik lembut di belakang layar. Aku hidup di kenyataan yang bau, keras, dan menjijikkan. Babak ini membuatku paham betul bagaimana rasanya diludahi dunia tanpa kesempatan untuk membalas. Semua dimulai dari kabar seorang perempuan yang dulu aku yakini akan berjalan bersamaku sampai akhir. Dia menikah. Dan bukan dengan orang asing, tapi dengan seseorang yang pernah nongkrong bareng denganku. Rasanya seperti ditikam dari belakang lalu dipaksa tersenyum di depan orang-orang. Aku yang selama ini hidup di zona abu-abu akhirnya dipaksa melihat warna asli kehidupan: hitam pekat. Jujur, sampai sekarang aku masih menyalahkan diri sendiri seperti idiot. Aku bersembunyi di balik ketidakdewasaanku, menipu diri sendiri seolah aku kuat. Kupikir dia perempuan tangguh yang siap menunggu, tapi ternyata akulah lelaki tolol dengan ambisi rapuh yang bahkan ti...

HILANG

Akhir September 2025. Aku berulang kali menatap foto-foto lama,  menonton video-video yang pernah kuabadikan. Di sana aku tampak berani,  tampak tangguh, penuh percaya diri. Aku dengan segala kesombonganku, pernah merasa menaklukkan dunia. Namun hari ini segalanya berbeda. Aku hilang. Bukan hilang karena pergi, melainkan hilang  karena tak lagi menemukan diriku sendiri. Suara yang dulu lantang  kini hanya menjadi bisikan yang nyaris padam. Langkah yang dulu tegap  kini seperti terseret bayangan yang kian pekat. Bahkan untuk sekadar meraba kembali  kepercayaan diri yang dulu memimpin jalanku, aku tak berdaya. Aku berjalan di antara keramaian, namun seakan tak ada yang mengenaliku bahkan aku sendiri terasa asing. Aku ingin berteriak, tetapi suaraku tenggelam  dalam hening yang menyesakkan. Yang tersisa hanyalah rasa rasa kehilangan atas diri yang pernah begitu hidup. Diri yang dulu penuh cahaya, kini hanya tinggal bayangan yang menggigil. Aku masih me...