“Kalau tidak ada yang bertumbuh karena aku, siapa aku?” Kalimat idealis yang akhirnya kusadari menjadi salah satu kalimat paling toxic yang pernah kutanamkan pada diriku sendiri. Kalau melihat ke belakang, rasanya hidupku selalu dipenuhi orang-orang yang percaya padaku bahkan sebelum aku percaya pada diriku sendiri. Ada Ibu Ainur, guru Bahasa Indonesia yang pertama kali memperkenalkanku pada puisi dan membuatku sadar bahwa ternyata aku memiliki sesuatu di dalam diriku yang layak diasah. Dengan bimbingannya aku mengikuti berbagai lomba puisi. Ada juga Ibu Muara Suprapti yang terus mendorongku melesat lebih jauh sampai akhirnya aku sempat rekaman di radio karena menjuarai lomba puisi. Lalu Pak Adi, guru geografi ekonomiku yang percaya aku bisa menjadi seorang leader dan memberiku banyak kesempatan untuk berbicara, memimpin, dan berdiri di depan banyak orang selama masa sekolah. Namun dari semua orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidupku, salah satu yang paling membekas justru Pak I...