Demi Tuhan, aku masih mencintaimu. Bukan seperti dulu yang hangat dan penuh harapan, tapi seperti luka yang tidak dijahit, terbuka, basah, dan diam-diam membusuk di dalam dada. Aku masih menginginkanmu, dan penyesalan terbesarku bukan kehilanganmu, tapi karena aku pernah punya kesempatan, dan memilih untuk menjadi pengecut. Malam itu. Telepon yang berakhir menjelang subuh. Seharusnya itu bukan akhir. Seharusnya itu adalah awal dari keberanian. Tapi aku memilih diam. Dan sejak itu, hidupku seperti terhenti di satu detik yang sama yang terus berulang, menghukumku dengan versi diriku yang tidak pernah memilihmu. Aku pergi. Sejauh mungkin. Berpura-pura itu adalah keputusan yang bijak. Padahal itu hanya pelarian yang dibungkus alasan. Dan selama bertahun-tahun aku mencoba percaya bahwa kepergianku akan memperbaiki sesuatu. nyatanya tidak. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang sadar. Tidak ada yang membaik. Kecuali satu hal, aku kehilanganmu, BENAR-BENAR KEHILANGANMU. dan kamu harus me...
Kupikir dua tahun terakhir adalah puncaknya. Babak belur yang cukup. Kuliah yang setengah jalan, pekerjaan yang datang dan pergi, dan hutang yang diam-diam terus mengintai dari belakang. Aku pikir itu sudah cukup untuk menguatkanku. Cukup untuk menutup satu fase, lalu membuka yang baru. Ternyata tidak. Di penghujung Desember 2025, aku sempat percaya semuanya mulai membaik. Aku mendapat pekerjaan. Pelan-pelan aku menata ulang hidupku yang sempat berantakan. Aku mulai percaya diri lagi meski pelan, meski ragu-ragu. Hutangku juga hampir selesai. Saat aku menulis ini, sisanya bahkan tidak sampai satu juta. Bulan depan mungkin sudah lunas. Lucu ya. Hampir selesai, tapi tidak pernah benar-benar selesai. Hidup memang tidak pernah kehabisan cara untuk mengetuk pintu, bahkan ketika kita sudah hampir kehabisan tenaga untuk membukanya. Setelah sibuk menyelamatkan diriku sendiri, sekarang aku harus menyelamatkan yang lain. Aneh juga rasanya menyebut mereka “orang lain”. Kejam, mungkin. Tapi begitu...