21 Maret 2026 Oppor ayam dan Anjas Pagi ini dengan badan yang sedikit sempoyongan aku terhuyung-huyung bangun dari tempat tidur. Suasana lebaran yang tidak riuh, hening dan senyap. di motor aku melakukan takbir samar-samar sambil merasakan sesak yang tidak aku izinkan masuk terlalu dalam. "Alfa, bukan saatnya bersedih." INGAT! Aku mengabari Anjas, salah satu teman kuliah yang dulu juga menjadi roommate di kos-kosan sederhana belakang Gedung rektorat. Yap, dia tau persis bahwa temannya ini selalu anxious jika sendirian dan tidak pernah benar-benar berani tidur tanpa teman. Bahkan dulu ketika dia pulang kampung dan aku harus sendirian di kos, aku akan mengajak pasukan barang sekedar menginap di kosan. Moment paling diingat adalah ketika aku mendapatkan tugas menghafal aku akan meminta dia menemaniku pergi ke tanjakan GWK lalu turun Kembali dengan mematikan motor dan aku mulai menghafal. aku mengabarinya, menanyakan apakah opor ayam available hahaha dan yes pesanku disambut han...
Demi Tuhan, aku masih mencintaimu. Bukan seperti dulu yang hangat dan penuh harapan, tapi seperti luka yang tidak dijahit, terbuka, basah, dan diam-diam membusuk di dalam dada. Aku masih menginginkanmu, dan penyesalan terbesarku bukan kehilanganmu, tapi karena aku pernah punya kesempatan, dan memilih untuk menjadi pengecut. Malam itu. Telepon yang berakhir menjelang subuh. Seharusnya itu bukan akhir. Seharusnya itu adalah awal dari keberanian. Tapi aku memilih diam. Dan sejak itu, hidupku seperti terhenti di satu detik yang sama yang terus berulang, menghukumku dengan versi diriku yang tidak pernah memilihmu. Aku pergi. Sejauh mungkin. Berpura-pura itu adalah keputusan yang bijak. Padahal itu hanya pelarian yang dibungkus alasan. Dan selama bertahun-tahun aku mencoba percaya bahwa kepergianku akan memperbaiki sesuatu. nyatanya tidak. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang sadar. Tidak ada yang membaik. Kecuali satu hal, aku kehilanganmu, BENAR-BENAR KEHILANGANMU. dan kamu harus me...