“Kalau tidak ada yang bertumbuh karena aku, siapa aku?” Kalimat idealis yang akhirnya kusadari menjadi salah satu kalimat paling toxic yang pernah kutanamkan pada diriku sendiri. Kalau melihat ke belakang, rasanya hidupku selalu dipenuhi orang-orang yang percaya padaku bahkan sebelum aku percaya pada diriku sendiri. Ada Ibu Ainur, guru Bahasa Indonesia yang pertama kali memperkenalkanku pada puisi dan membuatku sadar bahwa ternyata aku memiliki sesuatu di dalam diriku yang layak diasah. Dengan bimbingannya aku mengikuti berbagai lomba puisi. Ada juga Ibu Muara Suprapti yang terus mendorongku melesat lebih jauh sampai akhirnya aku sempat rekaman di radio karena menjuarai lomba puisi. Lalu Pak Adi, guru geografi ekonomiku yang percaya aku bisa menjadi seorang leader dan memberiku banyak kesempatan untuk berbicara, memimpin, dan berdiri di depan banyak orang selama masa sekolah. Namun dari semua orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidupku, salah satu yang paling membekas justru Pak I...
Kita tahu, cepat atau lambat, akan ada perpisahan setelah sebuah pertemuan terjadi. Tapi tetap saja, kita selalu pura-pura lupa. Kan? Pak Frank adalah orang pertama yang membuka pintu itu untukku. Di saat aku sendiri bahkan ragu untuk mengetuk. Aku datang dengan gap, dengan cerita gagal yang terlalu panjang untuk dijelaskan di satu CV. Dengan rasa tidak layak yang diam-diam aku bawa ke mana-mana. Dan di antara banyak pintu yang tidak pernah benar-benar terbuka, beliau justru mengizinkan aku masuk. Aku masih ingat pagi itu .... Di sebuah meja di Hierarki Coffee, Renon. Kopi belum habis, tapi harapan sudah setengah aku tahan. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Aku baca. Aku diam. Aku senyum sedikit. Lalu seperti biasa, aku menurunkan ekspektasi karena aku sudah belajar, berharap terlalu tinggi itu berbahaya. "Sebab patah hati adalah kegagalan yang tidak pernah kita siapkan." Jadi aku hanya bilang dalam hati “Kalau ini untukku, dekatkan. Kalau bukan, kuatkan.” Di awal Desember itu, b...