Skip to main content

Posts

Hidup tanpa Ambisi

Kupikir dua tahun terakhir adalah puncaknya. Babak belur yang cukup. Kuliah yang setengah jalan, pekerjaan yang datang dan pergi, dan hutang yang diam-diam terus mengintai dari belakang. Aku pikir itu sudah cukup untuk menguatkanku. Cukup untuk menutup satu fase, lalu membuka yang baru. Ternyata tidak. Di penghujung Desember 2025, aku sempat percaya semuanya mulai membaik. Aku mendapat pekerjaan. Pelan-pelan aku menata ulang hidupku yang sempat berantakan. Aku mulai percaya diri lagi meski pelan, meski ragu-ragu. Hutangku juga hampir selesai. Saat aku menulis ini, sisanya bahkan tidak sampai satu juta. Bulan depan mungkin sudah lunas. Lucu ya. Hampir selesai, tapi tidak pernah benar-benar selesai. Hidup memang tidak pernah kehabisan cara untuk mengetuk pintu, bahkan ketika kita sudah hampir kehabisan tenaga untuk membukanya. Setelah sibuk menyelamatkan diriku sendiri, sekarang aku harus menyelamatkan yang lain. Aneh juga rasanya menyebut mereka “orang lain”. Kejam, mungkin. Tapi begitu...
Recent posts

1 MARET 2026

Aku membenci diriku sekeras apapun kau mengatakan aku hebat. Aku .... Menangis sejadi-jadinya sampai sesak luruh tak bersisa. Belajar serajin-rajinnya meski kepala penuh tanya. Bekerja sekeras-kerasnya hingga letih tak lagi terasa. Menghilang sehilang-hilangnya agar riuh tak ikut menyiksa. Dunia terlalu ricuh nadanya, teriak saling sahut tanpa jeda. Langkah dipaksa cepat arahnya, hati dituntut kuat tanpa suara. Sedang aku hanya mencari teduh saja, sepetak sunyi di sela gelisah yang membara. Bukan lari dari luka, bukan menyerah pada dunia, hanya ingin pulang sebentar ke jiwa, menyusun ulang yang retak dan fana.

FERMENTASI - DESEMBER 2025

Setelah gagal ke psikolog yang lebih tepatnya mundur karena takut pada diagnosis dan bayangan harus berakhir di rumah sakit jiwa wkwkwk aku memutuskan menjadikan blog ini sebagai tempat menumpahkan banyak hal yang tak tahu harus ke mana. Ya, kenapa harus ke psikolog? Awal Desember segalanya memang sedang tidak stabil. Kabar-kabar absurd dari keluarga yang tak pernah kehabisan drama datang bersamaan dengan hidup yang rasanya tak henti menguji. Suatu hari di jalan, air mata tiba-tiba jatuh, tubuh gemetar tanpa aba-aba, dan aku memilih menepi, duduk diam, meneguk air putih sambil mencoba bernapas pelan-pelan. Aku selalu menolak terlalu jauh menganalisis apakah ini soal kesehatan mental atau tidak, tapi orang bilang ketika stres mulai berbicara lewat tubuh, ada sesuatu yang tidak beres. Setelah mencari tahu biaya dokter dan psikolog, aku memilih satu keputusan sementara yaitu menanganinya sendiri dulu dengan satu syarat, tidak boleh sendirian. Saat rasa itu datang, aku akan meminta teman d...

MAAF GUE LEMAH

 8 Desember 2025 Hari ini gue berhenti pura-pura jadi manusia yang utuh.Nggak ada topeng yang gue pakai hari ini yang ada cuma gue, pecah berantakan, dan dunia yang tetap jalan seolah hidup gue nggak pernah retak. GUE CAPEEEEKK!!!! Capek yang nggak bisa lo lihat dari mata gue karena semuanya sudah habis. Capek sampai badan gue berasa kaya mau patah. Capek sampai napas pun rasanya kayak hutang yang gue harus bayar tiap hari. TIAP HARI! Buat orang-orang yang gue kecewain, maaf. Buat orang-orang yang nganggep gue baik, maaf. Buat ortu gue, maaf. Buat keluarga besar gue bahkan setelah kalian ngancurin gue berkali-kali, refleks gue akan tetap minta maaf. Kayak gue diciptain cuma buat salah dan bayar dosa yang bahkan bukan dosa gue. Buat temen-temen yang percaya sama gue, maaf kalau gue nggak bisa jadi versi kuat yang lo pikir gue punya. Gue bangun tiap hari dengan kepala yang berisik, hati yang kosong, dan tubuh yang cuma bergerak karena udah kebiasaan. Gue perang sendirian, dan musuhny...

MICROTEACHING DAY WITH BALI QUICK TALK

31 Oct, 2025 - Amolas Cafe Hari ini aku bangun lebih pagi, meskipun semalam aku baru tidur larut setelah seharian menyiapkan bahan ajar dan materi. Aku sempat bingung harus menyampaikan apa untuk microteaching dengan waktu terbatas, tapi aku harus mengerahkan seluruh kemampuan mengajarku sambil tetap menanamkan nilai yang dibawa oleh platform yang akan aku masuki. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri “Alfa, apa yang paling kamu butuhkan saat ini?” Jawabannya sederhana “Arah.” Dari sana aku langsung memutuskan, DIRECTION akan menjadi tema microteaching-ku. Aku masih ingat hari pertama saat mendapat undangan interview, hujan deras, aku kebasahan, bahkan sempat nyasar ke Batu Belig, HAHAHAHA. Dari pengalaman itu aku sempat membuat peta kecil di kepala tentang Canggu. Lucu, tapi bermakna. Lalu aku teringat lagi motoku: “It’s not only about teaching the head, but also about touching the heart.” Aku ingin murid-muridku nanti juga belajar menyentuh hati mereka sendiri. Maka...

Sebuah Surat dari Antara Jatuh dan Pulih

  29 Oktober 2025 Dear Dika, Ginan, and Jessica, Jika ada satu hal yang harus kusampaikan pada kalian bertiga, maka aku akan meminjam kalimat Dika yang tadi ia ucapkan padaku  “Mungkin kamu adalah jawaban dari doaku untuk dipertemukan dengan orang baik.” Sudah tiga bulan aku berperang melawan rasa ketidakpantasan sebagai manusia, melawan ambisi menjadi “manusia Jakarta”, dan melawan kekalahan yang datang bertubi-tubi. Hasilnya? Kepercayaan diriku sempat hilang seluruhnya. Setelah aku memutuskan untuk melepaskan segalanya, aku berjalan tanpa cahaya. Entah berapa banyak lamaran kerja yang kukirim dari LinkedIn, Jobstreet, Glints, hingga Facebook, semuanya berakhir nihil. Seolah segala yang kubangun selama ini tak pernah menemukan kata layak, tak pernah jatuh pada tempat yang tepat. Akhir September 2025 menjadi titik nadir. Yap, penolakan pertama dari sebuah perusahaan di Jakarta Timur. Berjuang di Jakarta dengan segala keterbatasan membuatku hancur tanpa sisa. Dengan sisa tabung...

Sebuah Surat tak Terkirim

Halo Kak, Semoga Kakak dalam keadaan baik di sana. Aku menulis ini bukan untuk mengeluh, tapi untuk bercerita jujur tentang keadaanku akhir-akhir ini. Aku rasa, hanya dengan menulis seperti ini aku bisa sedikit bernapas. Saat ini aku sudah tidak memiliki pekerjaan tetap. Aku sempat melamar di beberapa tempat, tapi belum ada kabar yang baik. Di sisi lain, aku sedang membangun bisnis kecil-kecilan, kursus bahasa Inggris online, yang sebenarnya sangat aku cintai, karena aku bisa tetap mengajar dan merasa berguna. Tapi pendapatannya belum cukup stabil untuk menutup semua kebutuhan. Aku juga sedang berjuang menyelesaikan beberapa hutang pribadi dan keluarga. Kadang aku merasa lelah, bukan hanya karena uang, tapi karena ketidakpastian yang terus datang. Ada hari-hari di mana aku yakin bisa bangkit, tapi ada juga malam-malam di mana aku merasa semua ini terlalu berat untuk ditanggung sendiri. Aku sering bertanya ke diriku sendiri, Kak. Kenapa aku resign waktu itu? Kenapa aku begitu yakin meng...