Skip to main content

Posts

Pak Frank Resign

Kita tahu, cepat atau lambat, akan ada perpisahan setelah sebuah pertemuan terjadi. Tapi tetap saja, kita selalu pura-pura lupa. Kan? Pak Frank adalah orang pertama yang membuka pintu itu untukku. Di saat aku sendiri bahkan ragu untuk mengetuk. Aku datang dengan gap, dengan cerita gagal yang terlalu panjang untuk dijelaskan di satu CV. Dengan rasa tidak layak yang diam-diam aku bawa ke mana-mana. Dan di antara banyak pintu yang tidak pernah benar-benar terbuka, beliau justru mengizinkan aku masuk. Aku masih ingat pagi itu .... Di sebuah meja di Hierarki Coffee, Renon. Kopi belum habis, tapi harapan sudah setengah aku tahan. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Aku baca. Aku diam. Aku senyum sedikit. Lalu seperti biasa, aku menurunkan ekspektasi karena aku sudah belajar, berharap terlalu tinggi itu berbahaya. "Sebab patah hati adalah kegagalan yang tidak pernah kita siapkan." Jadi aku hanya bilang dalam hati  “Kalau ini untukku, dekatkan. Kalau bukan, kuatkan.” Di awal Desember itu, b...
Recent posts

HARI YANG CUKUP PANIK - Shake it 'till you make it

Hari ini rasanya seperti kegagalan yang patut disyukuri, a beautiful failure. Beberapa bulan terakhir, aku lebih sering in charge di breakfast section. Jujur, rasanya tidak semeriah shift malam. Malam itu hidup, penuh tantangan, penuh rasa. Cocktail, wine, dan segala minuman berbasis spirit yang dulu terasa asing, bisa kulihat langsung, kuracik sendiri, dan kurasakan dengan tanganku. Tapi sejak lebih sering masuk pagi, ritme hidupku berubah. Secara personal, aku harus bangun subuh, berangkat saat matahari baru mulai “ketawa”, dan pulang ketika dia sudah lelah lalu tenggelam. Ditambah drama macet yang seolah tidak ada habisnya. Awalnya berat. Lama-lama terbiasa. Tapi ada satu hal yang mengganggu, rasanya seperti jalan di tempat. Hari-hariku dipenuhi bar preparation, jus, milkshake, smoothies, dan minuman simpel lainnya. Semuanya jadi muscle memory. Tanganku bergerak otomatis, bahkan tanpa perlu berpikir. Dan ya, jarang sekali ada orang yang ingin tipsy di pagi atau siang hari WKWKWK ora...
Big Bos is in the house, yow! Aku tidak ingin terburu-buru melabeli kita sebagai keluarga. kita memulai sebagai rekan kerja, jadi biarlah waktu yang perlahan menentukan kita akan menjadi apa. Terima kasih sudah menjadi teman untuk tertawa, untuk berbagi keluh kesah, dan untuk menaklukkan setiap tantangan yang datang. Dan semoga, dalam proses bertumbuh ini, kita bisa terus saling menemani HG MONITOR! Seperti barista, yang meracik bukan hanya kopi, tapi juga ketulusan dalam setiap cangkir yang disajikan; sederhana, tapi bisa menghangatkan hari seseorang. Seperti bartender, yang mencampur rasa, emosi, dan cerita untuk mengubah yang pahit menjadi sesuatu yang tetap bisa dinikmati. Seperti sommelier, yang memahami bahwa setiap rasa punya cerita, dan setiap pilihan adalah tentang menemukan kecocokan yang tepat. Seperti GRO, yang walau kadang sedang berantakan, tetap mampu tersenyum lebar demi menghadirkan pengalaman yang berkesan. Seperti server, yang mungkin lelah tanpa banyak kata, tapi te...

LEBARAN 2026 [Rumah Anjas dan Cafenya Dew]

21 Maret 2026 Oppor ayam dan Anjas Pagi ini dengan badan yang sedikit sempoyongan aku terhuyung-huyung bangun dari tempat tidur. Suasana lebaran yang tidak riuh, hening dan senyap. di motor aku melakukan takbir samar-samar sambil merasakan sesak yang tidak aku izinkan masuk terlalu dalam.  "Alfa, bukan saatnya bersedih." INGAT! Aku mengabari Anjas, salah satu teman kuliah yang dulu juga menjadi roommate di kos-kosan sederhana belakang Gedung rektorat. Yap, dia tau persis bahwa temannya ini selalu anxious jika sendirian dan tidak pernah benar-benar berani tidur tanpa teman. Bahkan dulu ketika dia pulang kampung dan aku harus sendirian di kos, aku akan mengajak pasukan barang sekedar menginap di kosan. Moment paling diingat adalah ketika aku mendapatkan tugas menghafal aku akan meminta dia menemaniku pergi ke tanjakan GWK lalu turun Kembali dengan mematikan motor dan aku mulai menghafal. aku mengabarinya, menanyakan apakah opor ayam available hahaha dan yes pesanku disambut han...

Kamu tidak salah, aku yang terlambat

Demi Tuhan, aku masih mencintaimu. Bukan seperti dulu yang hangat dan penuh harapan, tapi seperti luka yang tidak dijahit, terbuka, basah,  dan diam-diam membusuk di dalam dada. Aku masih menginginkanmu, dan penyesalan terbesarku bukan kehilanganmu, tapi karena aku pernah punya kesempatan, dan memilih untuk menjadi pengecut. Malam itu. Telepon yang berakhir menjelang subuh. Seharusnya itu bukan akhir. Seharusnya itu adalah awal dari keberanian. Tapi aku memilih diam. Dan sejak itu, hidupku seperti terhenti di satu detik yang sama yang terus berulang, menghukumku dengan versi diriku yang tidak pernah memilihmu. Aku pergi. Sejauh mungkin. Berpura-pura itu adalah keputusan yang bijak. Padahal itu hanya pelarian yang dibungkus alasan. Dan selama bertahun-tahun aku mencoba percaya bahwa kepergianku akan memperbaiki sesuatu. nyatanya tidak. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang sadar. Tidak ada yang membaik. Kecuali satu hal, aku kehilanganmu, BENAR-BENAR KEHILANGANMU. dan kamu harus me...

Hidup tanpa Ambisi

Kupikir dua tahun terakhir adalah puncaknya. Babak belur yang cukup. Kuliah yang setengah jalan, pekerjaan yang datang dan pergi, dan hutang yang diam-diam terus mengintai dari belakang. Aku pikir itu sudah cukup untuk menguatkanku. Cukup untuk menutup satu fase, lalu membuka yang baru. Ternyata tidak. Di penghujung Desember 2025, aku sempat percaya semuanya mulai membaik. Aku mendapat pekerjaan. Pelan-pelan aku menata ulang hidupku yang sempat berantakan. Aku mulai percaya diri lagi meski pelan, meski ragu-ragu. Hutangku juga hampir selesai. Saat aku menulis ini, sisanya bahkan tidak sampai satu juta. Bulan depan mungkin sudah lunas. Lucu ya. Hampir selesai, tapi tidak pernah benar-benar selesai. Hidup memang tidak pernah kehabisan cara untuk mengetuk pintu, bahkan ketika kita sudah hampir kehabisan tenaga untuk membukanya. Setelah sibuk menyelamatkan diriku sendiri, sekarang aku harus menyelamatkan yang lain. Aneh juga rasanya menyebut mereka “orang lain”. Kejam, mungkin. Tapi begitu...