Kupikir dua tahun terakhir adalah puncaknya. Babak belur yang cukup. Kuliah yang setengah jalan, pekerjaan yang datang dan pergi, dan hutang yang diam-diam terus mengintai dari belakang. Aku pikir itu sudah cukup untuk menguatkanku. Cukup untuk menutup satu fase, lalu membuka yang baru. Ternyata tidak. Di penghujung Desember 2025, aku sempat percaya semuanya mulai membaik. Aku mendapat pekerjaan. Pelan-pelan aku menata ulang hidupku yang sempat berantakan. Aku mulai percaya diri lagi meski pelan, meski ragu-ragu. Hutangku juga hampir selesai. Saat aku menulis ini, sisanya bahkan tidak sampai satu juta. Bulan depan mungkin sudah lunas. Lucu ya. Hampir selesai, tapi tidak pernah benar-benar selesai. Hidup memang tidak pernah kehabisan cara untuk mengetuk pintu, bahkan ketika kita sudah hampir kehabisan tenaga untuk membukanya. Setelah sibuk menyelamatkan diriku sendiri, sekarang aku harus menyelamatkan yang lain. Aneh juga rasanya menyebut mereka “orang lain”. Kejam, mungkin. Tapi begitu...
Aku membenci diriku sekeras apapun kau mengatakan aku hebat. Aku .... Menangis sejadi-jadinya sampai sesak luruh tak bersisa. Belajar serajin-rajinnya meski kepala penuh tanya. Bekerja sekeras-kerasnya hingga letih tak lagi terasa. Menghilang sehilang-hilangnya agar riuh tak ikut menyiksa. Dunia terlalu ricuh nadanya, teriak saling sahut tanpa jeda. Langkah dipaksa cepat arahnya, hati dituntut kuat tanpa suara. Sedang aku hanya mencari teduh saja, sepetak sunyi di sela gelisah yang membara. Bukan lari dari luka, bukan menyerah pada dunia, hanya ingin pulang sebentar ke jiwa, menyusun ulang yang retak dan fana.