“Kalau tidak ada yang bertumbuh karena aku, siapa aku?”
Kalimat idealis yang akhirnya kusadari menjadi salah satu kalimat paling toxic yang pernah kutanamkan pada diriku sendiri.
Kalau melihat ke belakang, rasanya hidupku selalu dipenuhi orang-orang yang percaya padaku bahkan sebelum aku percaya pada diriku sendiri. Ada Ibu Ainur, guru Bahasa Indonesia yang pertama kali memperkenalkanku pada puisi dan membuatku sadar bahwa ternyata aku memiliki sesuatu di dalam diriku yang layak diasah. Dengan bimbingannya aku mengikuti berbagai lomba puisi. Ada juga Ibu Muara Suprapti yang terus mendorongku melesat lebih jauh sampai akhirnya aku sempat rekaman di radio karena menjuarai lomba puisi. Lalu Pak Adi, guru geografi ekonomiku yang percaya aku bisa menjadi seorang leader dan memberiku banyak kesempatan untuk berbicara, memimpin, dan berdiri di depan banyak orang selama masa sekolah.
Namun dari semua orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidupku, salah satu yang paling membekas justru Pak Ir. Rudy Nurbuana. Beliau mempercayai kecerdasanku sampai menjadikanku mentor anatomi unggas untuk siswa baru, tetapi yang paling kuingat bukan itu. Yang paling kuingat adalah ketika beliau menghampiriku di lapangan basket saat aku sedang duduk sendirian, bingung memilih antara bekerja atau kuliah. Di tengah kebingungan itu beliau meluangkan waktunya hanya untuk mendengarkan. Ada juga Pak Solihin, dosen Etika Profesi yang mentraktirku makan siang hanya karena aku menjadi salah satu top achievers di kelasnya. Aneh ya, kadang hidup kita dibentuk oleh perhatian-perhatian kecil yang mungkin bahkan sudah dilupakan oleh pemberinya.
Mungkin karena terlalu banyak menerima kebaikan seperti itu, aku tumbuh dengan keyakinan bahwa cara terbaik membalas semuanya adalah dengan meneruskan nilai-nilai yang pernah ditanamkan kepadaku. Sampai akhirnya kesempatan itu datang. Covid-19 dengan segala dramanya membawaku menjadi seorang pengajar di sebuah kampung kecil di salah satu provinsi di Jawa Timur. Dan untuk pertama kalinya aku merasa hidupku berada di tempat yang tepat.
Aku hidup di sana dengan sepenuh hati. Bukan hanya hidup dengan nilai-nilai itu, tapi juga menghidupinya. Aku mulai mengukur identitas diriku dari seberapa besar keberdampakan yang bisa kuberikan kepada orang lain. Semakin banyak orang yang kutolong, semakin banyak orang yang bertumbuh karena aku, semakin terasa bahwa hidupku memiliki arti. Rasanya candu. Ada kebahagiaan aneh ketika melihat seseorang berkembang karena kata-kata yang kita ucapkan. Seolah keberadaan kita benar-benar dibutuhkan di dunia ini.
Sampai suatu hari realita datang HAHAHAHA!
Kebutuhanku semakin banyak. Hutang belum selesai. Menjadi tulang punggung keluarga tanpa seremoni. Drama-drama rumah yang bukan aku penyebabnya tetapi tetap harus ikut kupikul juga. Dan ironisnya, di saat aku sibuk membantu banyak orang, aku mulai kehilangan kemampuan untuk menyelamatkan diriku sendiri.
Di titik itu aku baru sadar, profesiku mengharuskanku membantu banyak orang sampai aku lupa bahwa sebenarnya akulah yang perlu dibantu.
Akhirnya aku memilih hidup lebih realistis. Aku meninggalkan dunia pendidikan. Lucu juga rasanya, di usia yang hampir kepala tiga aku memutuskan switch career. Rasanya seperti mulai hidup dari nol lagi. Sulit menembus dunia baru itu, tetapi entah bagaimana akhirnya aku berhasil juga.
Namun ternyata ada sesuatu yang tertinggal.
Di dunia pendidikan, impact terasa nyata. Aku bisa melihat orang bertumbuh di depan mataku sendiri. Sedangkan sekarang, di dunia pekerjaan yang sekarang aku jalani, impact terasa subtle. Kadang pekerjaan yang baik hanya berarti tidak ada komplain. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada cerita tentang seseorang yang hidupnya berubah karena kehadiranmu. Hanya serangkaian shift panjang, senyum yang harus tetap terjaga, dan hari-hari yang berjalan tanpa banyak suara.
Dan mungkin itulah trade yang sebenarnya tidak pernah kusiapkan.
Aku pikir selama ini aku sedang menukar idealisme dengan stabilitas finansial. Ternyata yang ikut tertukar adalah cara pandangku terhadap diriku sendiri.
Setelah semua ini, aku mulai bertanya
"kalau selama ini identitasku dibangun dari seberapa besar aku berarti bagi orang lain, lalu ketika hidup menuntutku menjadi realistis seperti sekarang asebenarnya siapa diriku tanpa semua itu?"

Comments
Post a Comment