Ternyata tidak.
Di penghujung Desember 2025, aku sempat percaya semuanya mulai membaik. Aku mendapat pekerjaan. Pelan-pelan aku menata ulang hidupku yang sempat berantakan. Aku mulai percaya diri lagi meski pelan, meski ragu-ragu. Hutangku juga hampir selesai. Saat aku menulis ini, sisanya bahkan tidak sampai satu juta. Bulan depan mungkin sudah lunas.
Lucu ya. Hampir selesai, tapi tidak pernah benar-benar selesai.
Hidup memang tidak pernah kehabisan cara untuk mengetuk pintu, bahkan ketika kita sudah hampir kehabisan tenaga untuk membukanya. Setelah sibuk menyelamatkan diriku sendiri, sekarang aku harus menyelamatkan yang lain.
Aneh juga rasanya menyebut mereka “orang lain”. Kejam, mungkin. Tapi begitulah rasanya. Aku yang belum punya rumah, belum punya arah yang jelas, tiba-tiba resmi menjadi tulang punggung keluarga. Tanpa seremoni. Tanpa persiapan. Tanpa pilihan.
Seperti dipaksa berdiri, ketika sebenarnya aku sendiri masih gemetar.
Sejak belasan tahun, aku selalu memilih pergi. Menghindar dari apapun yang bernama keluarga. Tidak pernah tertarik membahas warisan, konflik, atau drama yang tidak pernah selesai. Aku hanya ingin jauh. Sejauh mungkin.
Karena bagiku, rumah bukan tempat pulang.
Rumah adalah ruang kosong. maaf.
Dan mungkin aku terlalu lama berpura-pura bahwa dengan menjauh, semua itu akan hilang. Padahal tidak. Ia hanya menumpuk. Diam-diam. Menunggu waktu untuk jatuh sekaligus.
Dan sekarang, semuanya jatuh di pundakku. Sialnya, aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
Akhir-akhir ini dadaku sering terasa sesak. Mataku mudah sekali merah, bahkan hanya karena satu lagu. Ada satu bagian yang terus terngiang
“jika semua bersandar padaku, aku tak tahu harus bersandar ke mana.”
Dan itu terasa… terlalu dekat.
Sekarang hidupku tidak lagi luas. Tidak lagi penuh kemungkinan. Ambisi terasa seperti sesuatu yang dulu pernah kumiliki, tapi entah kapan hilang.
Kuliah lagi? Rasanya seperti mimpi yang sudah terlalu jauh.
Ke luar negeri? Bahkan terdengar seperti lelucon yang tidak lucu.
Sekarang aku hanya belajar satu hal bernama ikhlas.
Atau setidaknya, mencoba belajar.
Karena kalau benar aku sudah ikhlas, mungkin aku tidak akan merasa seberat ini.
Hari-hariku sekarang sederhana. Terlalu dan sangat sederhana.
“Kak, listrik habis.”
“Kak, motor harus diservis.”
“Kak, ada ini. Kak, ada itu.”
Dan aku tidak lagi banyak bicara. Tidak ada protes. Tidak ada penolakan.
Hanya,
“iya.”
“tunggu.”
Seperti mesin yang bekerja tanpa banyak pertanyaan.
Seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menolak.
Karena pada akhirnya, aku sadar satu hal
"HIDUPKU SUDAH BUKAN MILIKU LAGI."

Comments
Post a Comment