Halo Kak,
Semoga Kakak dalam keadaan baik di sana. Aku menulis ini bukan untuk mengeluh, tapi untuk bercerita jujur tentang keadaanku akhir-akhir ini. Aku rasa, hanya dengan menulis seperti ini aku bisa sedikit bernapas.
Saat ini aku sudah tidak memiliki pekerjaan tetap. Aku sempat melamar di beberapa tempat, tapi belum ada kabar yang baik. Di sisi lain, aku sedang membangun bisnis kecil-kecilan, kursus bahasa Inggris online, yang sebenarnya sangat aku cintai, karena aku bisa tetap mengajar dan merasa berguna. Tapi pendapatannya belum cukup stabil untuk menutup semua kebutuhan.
Aku juga sedang berjuang menyelesaikan beberapa hutang pribadi dan keluarga. Kadang aku merasa lelah, bukan hanya karena uang, tapi karena ketidakpastian yang terus datang. Ada hari-hari di mana aku yakin bisa bangkit, tapi ada juga malam-malam di mana aku merasa semua ini terlalu berat untuk ditanggung sendiri.
Aku sering bertanya ke diriku sendiri, Kak. Kenapa aku resign waktu itu? Kenapa aku begitu yakin mengambil keputusan yang ternyata malah menjerumuskanku ke keadaan yang seperti sekarang? Kadang aku memutar kembali semuanya di kepala, seperti menonton ulang film yang tidak ingin aku lihat lagi. Aku ingat bagaimana dulu aku begitu yakin bahwa kebebasan akan membuatku lebih bahagia, bahwa dengan keluar dari rutinitas aku akan menemukan jalanku sendiri. Tapi nyatanya, jalan itu tidak seindah yang kubayangkan.
Sekarang, aku sering merasa seperti sedang menanggung akibat dari keberanian yang terlalu polos. Aku menyesali banyak hal, Kak. Bukan karena aku gagal, tapi karena aku merasa membuat hidupku sendiri lebih sulit dari yang seharusnya. Ada hari-hari di mana aku berharap bisa kembali ke masa itu, dan menepuk pundakku sendiri sambil bilang, “Tunggu sebentar lagi, jangan pergi dulu.”
Tapi di balik semua penyesalan itu, entah kenapa, selalu ada suara kecil yang menolak diam. Suara yang lembut tapi keras kepala, yang bilang, “Mungkin ini tetap jalanmu.” Jalanku yang gelap, panjang, dan penuh batu. Jalanku yang sering membuatku jatuh dan berdarah, tapi juga jalanku yang sedang mengajarkanku arti bertahan. Dan meski aku belum tahu ujungnya di mana, aku masih berjalan. Mungkin pelan, mungkin sambil menangis, tapi aku tetap melangkah karena kalau aku berhenti, semua rasa sakit ini akan sia-sia.
Kak, Jangan salah paham.
Aku menulis ini bukan untuk minta belas kasihan, tapi karena aku butuh satu orang yang benar-benar tahu bahwa aku sedang berjuang. Kakak selalu jadi sosok yang aku anggap tenang, seseorang yang bisa aku pandang dari jauh dan bilang,
“aku pengin setenang itu suatu hari nanti.”
Mungkin itu sebabnya aku menulis ke Kakak hari ini. Aku cuma butuh diingatkan bahwa meski semuanya terasa berat, aku belum hilang.
Terima kasih sudah mau membaca semua ini, Kak. Jarak terasa jauh, tapi entah kenapa, lewat tulisan ini, aku merasa sedikit lebih dekat.
Comments
Post a Comment