Setelah gagal ke psikolog yang lebih tepatnya mundur karena takut pada diagnosis dan bayangan harus berakhir di rumah sakit jiwa wkwkwk aku memutuskan menjadikan blog ini sebagai tempat menumpahkan banyak hal yang tak tahu harus ke mana. Ya, kenapa harus ke psikolog? Awal Desember segalanya memang sedang tidak stabil. Kabar-kabar absurd dari keluarga yang tak pernah kehabisan drama datang bersamaan dengan hidup yang rasanya tak henti menguji. Suatu hari di jalan, air mata tiba-tiba jatuh, tubuh gemetar tanpa aba-aba, dan aku memilih menepi, duduk diam, meneguk air putih sambil mencoba bernapas pelan-pelan. Aku selalu menolak terlalu jauh menganalisis apakah ini soal kesehatan mental atau tidak, tapi orang bilang ketika stres mulai berbicara lewat tubuh, ada sesuatu yang tidak beres. Setelah mencari tahu biaya dokter dan psikolog, aku memilih satu keputusan sementara yaitu menanganinya sendiri dulu dengan satu syarat, tidak boleh sendirian. Saat rasa itu datang, aku akan meminta teman datang, sekadar menemani ngopi atau tidur. Dari dulu aku memang seperti itu bahkan sejak kuliah, aku sering mengundang teman-teman menginap, bukan karena banyak makanan, tapi karena kehadiran orang lain membuat ruang terasa aman. Aku tidak pernah sepenuhnya mandiri. Tapi sampai kapan bergantung? Maka ketika aku sudah mentok dan tak ingin merepotkan siapa pun, blog ini menjadi tempat aku menulis apa saja, sekadar untuk memahami ke mana pikiranku berlari selain karena memang milis ini tidak banyak diketahui orang hahaha!
Sebelum benar-benar masuk ke tahun 2025, izinkan aku tertawa dulu. Keras. Karena tahun itu datang dengan cara yang sunyi namun melelahkan, seolah ia tidak berniat menjatuhkan sekaligus, melainkan memilih menggerogoti sedikit demi sedikit sampai aku hampir kehabisan tenaga untuk berharap. Setelah 2024 akhirnya menutup satu bab panjang,kuliah yang tertunda sekian lama, aku sempat percaya hidup akan bergerak lebih ramah, bahwa kerja keras akan dibalas dengan pekerjaan yang layak, stabilitas yang dijanjikan, dan hari-hari yang tidak lagi terasa seperti medan ujian. Kenyataannya justru berjalan ke arah lain, meninggalkanku berhadapan dengan tumpukan hutang, kelelahan yang tak sempat dijelaskan, serta perasaan kehilangan identitas yang datang tanpa aba-aba. Ini beneran sakit banget, bahkan kalau diingat malam itu nangis nggak jelas kayak sinetron hahahaha! tolol banget tolol!
Hari-hari berlalu dalam ritme yang aneh. Yak, aku tetap bangun pagi, tetap bergerak, tetap menyelesaikan hal-hal kecil yang bisa diselesaikan, namun di dalam kepala selalu ada kebisingan yang menanyakan arah, tujuan, dan makna dari semua usaha itu. Ada masa ketika bertahan terasa seperti satu-satunya kemenangan yang mungkin diraih, dan ada momen ketika aku harus mengakui bahwa aku bukan hanya dikecewakan oleh keadaan, tetapi juga, dengan caraku sendiri, mengecewakan orang lain, sebuah kesadaran yang jauh lebih berat daripada kegagalan apa pun.
Di penghujung tahun, ketika ambisi sudah lelah berdebat dengan realitas, aku dipertemukan dengan sesuatu yang tidak berbicara dan tidak menuntut penjelasan, namun justru memaksaku berhenti dan memperhatikan. Aku melihat adonan roti yang didiamkan. Hanya dibiarkan berada di tempatnya agar ragi di dalamnya bisa bekerja. Dari sana, pikiranku mulai berkelana pada hal-hal lain yang selama ini luput kusadari : biji yang harus pecah agar tumbuh, susu yang harus rusak sebelum menjadi yogurt, cabai yang harus melewati panas dan waktu, kayu yang harus dibakar perlahan agar aromanya keluar. Tak satu pun dari mereka langsung bernilai, kan? semuanya harus melalui proses yang tampak seperti penghancuran bentuk awalnya.
Perlahan aku memahami bahwa sebelum sesuatu menemukan nilainya, ia hampir selalu harus kehilangan wujud lamanya, dan setelah semua penempaan itu, selalu ada satu fase yang sama yaitu diam. Dalam fermentasi, diam bukanlah ketiadaan, melainkan kerja paling sibuk yang dilakukan dalam senyap. Mikroorganisme tidak berteriak, tidak meminta validasi, dan tidak mempercepat waktu. Yah, mereka hanya tinggal, menyesuaikan diri, saling menyingkirkan, sampai yang paling selaras perlahan mengambil alih ruang yang ada.
Kesadaran itu membuatku tersenyum getir, karena hidupku terasa sangat mirip dengan proses tersebut. Aku terlalu sering ingin hasil tanpa berani menunggu, ingin menjadi versi tertentu dari diriku tanpa melewati fase diam yang panjang. Padahal mungkin aku tidak sedang gagal, MUNGKIN! aku hanya berada di tahap inkubasi, tidak bisa dijelaskan, dan sering disalahpahami sebagai kemunduran. Hidup, seperti fermentasi, bekerja dalam senyap, dan perubahan paling penting hampir selalu terjadi ketika tidak ada yang terlihat berubah.
Menjelang akhir tahun, aku berhenti memaksa segalanya untuk segera beres. Aku membiarkan beberapa hal tetap menggantung, membiarkan diriku lelah tanpa harus segera menemukan jawaban. Jika sebelas bulan terakhir adalah fase dar der dor yang menguras segalanya, mungkin sisa waktu ini memang bukan tentang panen, melainkan tentang beristirahat. Barangkali 2026 tidak akan datang sebagai kehidupan yang sempurna, tetapi sebagai versi baru yang tumbuh perlahan. SEMOGA!

.jpeg)

Comments
Post a Comment