Skip to main content

MICROTEACHING DAY WITH BALI QUICK TALK


31 Oct, 2025 - Amolas Cafe

Hari ini aku bangun lebih pagi, meskipun semalam aku baru tidur larut setelah seharian menyiapkan bahan ajar dan materi. Aku sempat bingung harus menyampaikan apa untuk microteaching dengan waktu terbatas, tapi aku harus mengerahkan seluruh kemampuan mengajarku sambil tetap menanamkan nilai yang dibawa oleh platform yang akan aku masuki.

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri

“Alfa, apa yang paling kamu butuhkan saat ini?”

Jawabannya sederhana

“Arah.”

Dari sana aku langsung memutuskan, DIRECTION akan menjadi tema microteaching-ku. Aku masih ingat hari pertama saat mendapat undangan interview, hujan deras, aku kebasahan, bahkan sempat nyasar ke Batu Belig, HAHAHAHA. Dari pengalaman itu aku sempat membuat peta kecil di kepala tentang Canggu. Lucu, tapi bermakna.

Lalu aku teringat lagi motoku:

“It’s not only about teaching the head, but also about touching the heart.”

Aku ingin murid-muridku nanti juga belajar menyentuh hati mereka sendiri. Maka aku buatkan affirmation card sebagai penutup kelas.

Here we go …

Tubuhku agak limbung sebab tidur larut, bangun pagi, tapi semangat tetap penuh. Sarapanku? Nasi sisa semalam dan Indomie. Kombinasi sederhana tapi mengenyangkan. Budget hari ini aku sisihkan untuk secangkir Americano di tempat microteaching, Amolas Caffe. [Sambil merasa sebal, kenapa sih nggak di kopi kenangan aja yang masuk di budgetku wkwkwkkwk] but that's okay, hahaha.

Deg-degan? Tentu saja.

Meski sudah bertahun-tahun mengajar, sensasi tegang itu tak pernah hilang. Aku masih melakukan persiapan yang sama, merasakan semangat dari MYYOUNGERSELF yang dulu begitu haus akan pengalaman baru.

Sebuah pesan muncul di layar gawai dari Ginan

 “Are you ready? I am waiting outside.”

Yap. Let’s just kill it, Alfa. Do it.

Sebelum memulai, aku membaca doaku yang paling kusuka

“Robbi sorldi sodri wayasirli amri wahlul ukdatan mil lisani yafkohu qouli.”

Dan blar! Perjalanan pun dimulai.

Aku cukup mendapatkan feedback positive dari Dika, the owner, tapi aku memaksa otakku untuk tidak berekspektasi apa-apa. Aku masih ingat jelas betapa yakin dan positifnya dulu aku saat di meja interview di salah satu startup besar Jakarta dan akhirnya TERTOLAK, HAHAHA. Luka itu belum sepenuhnya hilang. Jadi hari ini aku hanya berkata pada diriku sendiri

Let it flow, Al. Let it flow. Don’t expect. Please, JUST DON'T.

Jangan berharap terlalu banyak.

Cukup ajari dirimu untuk percaya pada proses, bukan pada hasil. Karena arah bukan sesuatu yang ditemukan di peta, melainkan sesuatu yang tumbuh di dalam diri setiap kali kau berani melangkah meski tak tahu ke mana.

“God Please do not only prepare me to win, but also to lose”
Amolas Cafe - dalam perjalanan kembali pulih.


Comments

Popular posts from this blog

RESIGN

Halo Blogspot! Entah mengapa, setiap kali membuka laman ini, aku selalu merasa seperti pulang ke ruang paling jujur dalam kepalaku. Di sini, tidak ada keharusan untuk memilih diksi yang mengilap, tidak ada tuntutan gaya bahasa yang mencolok, dan tidak ada suara-suara yang meminta agar semuanya terdengar sempurna. Blog ini seperti tempat duduk tua yang nyaman di sudut kafe yang lusuh, tapi selalu bisa menjadi tempat kembali. Dan hari ini, aku ingin bercerita. Tentang sebuah keputusan besar, Resign. Iya, aku akhirnya resign. Sebuah keputusan yang tidak muncul dalam semalam, tidak juga karena amarah atau kekecewaan sesaat. Justru sebaliknya, keputusan ini datang setelah waktu yang panjang, saat aku mulai merasa bahwa pertumbuhan bukan lagi tentang apa yang bisa kudapat, tapi tentang apa yang bisa kuselami. Di usia yang kalau dipikir-pikir sudah cukup untuk menyadari bahwa kenyamanan bisa menjadi jebakan yang halus, aku mulai mempertanyakan ulang tentang untuk apa semua ini? Bukan karena p...

In Order to Fall in Love with Myself – Again

Being single for quite a long time has opened a new chapter of my life, the loss of confidence in rebuilding a relationship. Love once felt so simple, coming naturally, without much drama. Now, my life is filled with heavier things. Aging, a world that keeps moving faster, post college debts waiting to be paid, and work that seems endless have taught me to manage myself more wisely. Youngerself Yap, Life hasn’t been quiet. As I get older, I feel like the world is getting louder and busier, while I’m trying to keep up. Somewhere along the way, the idea of falling in love started to feel less important, maybe even impossible, hahaha. Alfa, when will you take the next step? ” - It means finding love again. But am I ready? He was so confident with his imperfection I paused when I heard that question. I stood in front of the mirror, staring at myself, trying to find answers. But instead of clarity, I felt something else, fear. Not fear of being alone, but fear of opening myself up a...

Tentang Beasiswa adalah Tentang “Maaf Aku Memilih Berhenti Berlari”

Hidup rasanya tidak pernah berhenti menjadi perjalanan yang penuh paradoks. Aku terus berlari mengejar tujuan, tapi sering lupa menikmati jalan yang kutempuh. Dalam hiruk-pikuk dunia yang tak pernah berhenti menuntut, aku kehilangan ruang untuk mendengar suara terdalam jiwaku sendiri. Aku lupa, bahwa menjadi manusia berarti memberi ruang pada diri untuk merasa, termasuk untuk merasa lelah. Lelahku bukan tanda kelemahan. Ia adalah bahasa tubuh dan jiwa yang berbicara ketika tuntutan dunia melampaui batas kemampuanku. Tapi entah mengapa, aku sering mengabaikannya. Seolah-olah terus bergerak adalah satu-satunya pilihan yang benar. Aku memaksa diriku untuk terus maju, hingga yang tersisa hanyalah kepingan diriku yang tak lagi utuh, sama sekali. Aku pernah bertanya pada diriku sendiri “Untuk siapa sebenarnya aku berlari?” “Apa yang sebenarnya aku kejar dalam perlombaan yang garis akhirnya bahkan tak kupahami?”   “Apa yang benar-benar penting bagiku?” 2024, pasca dibabak belu...