Skip to main content

Sebuah Surat dari Antara Jatuh dan Pulih

 


29 Oktober 2025

Dear Dika, Ginan, and Jessica,

Jika ada satu hal yang harus kusampaikan pada kalian bertiga, maka aku akan meminjam kalimat Dika yang tadi ia ucapkan padaku

 “Mungkin kamu adalah jawaban dari doaku untuk dipertemukan dengan orang baik.”

Sudah tiga bulan aku berperang melawan rasa ketidakpantasan sebagai manusia, melawan ambisi menjadi “manusia Jakarta”, dan melawan kekalahan yang datang bertubi-tubi. Hasilnya? Kepercayaan diriku sempat hilang seluruhnya.

Setelah aku memutuskan untuk melepaskan segalanya, aku berjalan tanpa cahaya. Entah berapa banyak lamaran kerja yang kukirim dari LinkedIn, Jobstreet, Glints, hingga Facebook, semuanya berakhir nihil. Seolah segala yang kubangun selama ini tak pernah menemukan kata layak, tak pernah jatuh pada tempat yang tepat.

Akhir September 2025 menjadi titik nadir. Yap, penolakan pertama dari sebuah perusahaan di Jakarta Timur. Berjuang di Jakarta dengan segala keterbatasan membuatku hancur tanpa sisa. Dengan sisa tabungan, aku berada di Bali, membawa luka, marah, dan secuil harapan untuk pulih. Tapi rupanya, untuk pulih, aku harus kembali bertemu rasa pedih.

Aku kehilangan arah. Tidak lagi berdialog dengan Tuhan. Tidak lagi berolahraga. Makan sekadarnya. Hidup sekadar hidup jauh dari kata mewah. Minggu-minggu itu aku jalani dalam kekufuran, padahal Tuhan masih memberiku rasa aman. Tapi aku terus bertanya 

"Apakah aku masih akan bertahan, atau perlahan menghilang?"

Kalian tahu, di luar sana banyak orang yang sedang berjuang melawan rasa tidak percaya dirinya. Aku membaca kisah mereka diam-diam melalui linimasa, forum, cerita pendek dan sebagian memilih mengakhiri hidupnya. Ironis, karena aku pun pernah merasa hidupku sudah berakhir. Sekali gagal, aku lupa bahwa aku pernah punya banyak pencapaian.

Namun, di tengah rasa tidak percaya itu, aku menerima pesan sederhana dari Ginan. Hanya sebuah undangan ke Amolas. Terlihat sepele, tapi bagi seseorang yang sedang kehilangan arah, itu seperti seseorang mengetuk pintu rumah jiwa yang sudah lama sepi.

Dan kemudian, bertemu Dika in person, itu seperti babak bonus dalam game kehidupan. Dua pertanyaannya tentang keluarga dan agama berhasil menohok sekaligus membuatku tertawa getir. Dua hal yang justru paling jauh dari hidupku akhir-akhir ini. Tapi mungkin, dari pertemuan ini, aku ingin mencoba kembali bersilaturahmi dengan keduanya.

Aku tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi. Aku hanya ingin berfokus pada usaha. Aku sudah cukup sering jatuh, dan tak ingin kehilangan arah lagi. Jika nanti kita benar-benar bekerja sama, maka biarlah itu menjadi maktub, sesuatu yang memang sudah tertulis. Tapi jika tidak, aku tetap akan memegang keyakinan yang sama bahwa ada sesuatu yang luar biasa menunggu di luar sana.

Terima kasih sudah membuatku kembali percaya. Terima kasih sudah membuatku bangun lebih pagi, sibuk memilih outfit terbaik, dan kembali merasa hidup. Setelah sekian lama aku putus koneksi dengan dunia dan manusia, kali ini aku kembali tersambung melalui kalian, Bali Quick Talk.

Warmly,
Alfa


Comments

Popular posts from this blog

RESIGN

Halo Blogspot! Entah mengapa, setiap kali membuka laman ini, aku selalu merasa seperti pulang ke ruang paling jujur dalam kepalaku. Di sini, tidak ada keharusan untuk memilih diksi yang mengilap, tidak ada tuntutan gaya bahasa yang mencolok, dan tidak ada suara-suara yang meminta agar semuanya terdengar sempurna. Blog ini seperti tempat duduk tua yang nyaman di sudut kafe yang lusuh, tapi selalu bisa menjadi tempat kembali. Dan hari ini, aku ingin bercerita. Tentang sebuah keputusan besar, Resign. Iya, aku akhirnya resign. Sebuah keputusan yang tidak muncul dalam semalam, tidak juga karena amarah atau kekecewaan sesaat. Justru sebaliknya, keputusan ini datang setelah waktu yang panjang, saat aku mulai merasa bahwa pertumbuhan bukan lagi tentang apa yang bisa kudapat, tapi tentang apa yang bisa kuselami. Di usia yang kalau dipikir-pikir sudah cukup untuk menyadari bahwa kenyamanan bisa menjadi jebakan yang halus, aku mulai mempertanyakan ulang tentang untuk apa semua ini? Bukan karena p...

In Order to Fall in Love with Myself – Again

Being single for quite a long time has opened a new chapter of my life, the loss of confidence in rebuilding a relationship. Love once felt so simple, coming naturally, without much drama. Now, my life is filled with heavier things. Aging, a world that keeps moving faster, post college debts waiting to be paid, and work that seems endless have taught me to manage myself more wisely. Youngerself Yap, Life hasn’t been quiet. As I get older, I feel like the world is getting louder and busier, while I’m trying to keep up. Somewhere along the way, the idea of falling in love started to feel less important, maybe even impossible, hahaha. Alfa, when will you take the next step? ” - It means finding love again. But am I ready? He was so confident with his imperfection I paused when I heard that question. I stood in front of the mirror, staring at myself, trying to find answers. But instead of clarity, I felt something else, fear. Not fear of being alone, but fear of opening myself up a...

MAAF GUE LEMAH

 8 Desember 2025 Hari ini gue berhenti pura-pura jadi manusia yang utuh.Nggak ada topeng yang gue pakai hari ini yang ada cuma gue, pecah berantakan, dan dunia yang tetap jalan seolah hidup gue nggak pernah retak. GUE CAPEEEEKK!!!! Capek yang nggak bisa lo lihat dari mata gue karena semuanya sudah habis. Capek sampai badan gue berasa kaya mau patah. Capek sampai napas pun rasanya kayak hutang yang gue harus bayar tiap hari. TIAP HARI! Buat orang-orang yang gue kecewain, maaf. Buat orang-orang yang nganggep gue baik, maaf. Buat ortu gue, maaf. Buat keluarga besar gue bahkan setelah kalian ngancurin gue berkali-kali, refleks gue akan tetap minta maaf. Kayak gue diciptain cuma buat salah dan bayar dosa yang bahkan bukan dosa gue. Buat temen-temen yang percaya sama gue, maaf kalau gue nggak bisa jadi versi kuat yang lo pikir gue punya. Gue bangun tiap hari dengan kepala yang berisik, hati yang kosong, dan tubuh yang cuma bergerak karena udah kebiasaan. Gue perang sendirian, dan musuhny...