Skip to main content

Popoongan Short Diary

The best way to find yourself is to lose yourself in the service of other” – Mahatma Gandhi
 
Decha, a Popoongan girl and I
A wise man said to me that when you are serving others you learn about yourself in process. In  the beginning I didn’t care with those words, that was just nothing, but arriving in Popoongan was different story. I can’t believe it how time flies quickly. Popoongan is an island a part of Balabalakang (Balabagan) archipelago located in the border province of East Kalimantan and West Sulawesi. This story begin when I was upset and stress with my own life I had no idea what I have to do, people called this as a life crisis periode, Am i? Ah, fak! I wanted to do something meaningfull instead of just a travel. Meeting  friends in the coffeshop was a miracle that god had given me, that was the answer.

By that I would like to thanks to Mas Don, Daeng Dave, Mas Put , and Mas Ton who brought me there for free *lol they knew that I am a misqueen traveler hahaha. When I was visiting this island, Popoongan wasn’t famous like nowadays, the condition now is so much better than before (I know it through google) That wasn’t my first time visited an island without electricity, clean water, any other modern facilities, that was just a small island. Children there doesn’t have any gadgets even money to buy some food, but does it make them being an anguish people? Big No! they were happy, and so gratefull because of that they are able to accepting every single things in their life? Me? Hahaha for sure I couldn’t live without gadget on my hand.

When we just arrived there the kids welcoming us with the brightest smile in the universe. They are calling me as “kakak ganteng” in the reality I pushed them to call me like that. I had no experience of teaching, but they had desire to played some of games, I taught them singing, dancing, and I watched Mas Ton taught them to play plastisin, that was precious. Yap, I had so much fun, their smile, laugh, and gratefulness are succeed to warmed my heart up. I learned a lot about helping others following what Gandhi said although what I did wasn’t to big, that was just a simple things, I learned to letting go of my own ego, thanks kids.

When I left Popoongan the kids thanked me for being their friend and noob teacher but really I want to be the one to thanks them because through their smile they have change me as a person and showed me that I need just a little things in life to be happy. By the time I have to leave Popoongan, it feels like leaving home, Ah.


Thanks Popoongan.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

RESIGN

Halo Blogspot! Entah mengapa, setiap kali membuka laman ini, aku selalu merasa seperti pulang ke ruang paling jujur dalam kepalaku. Di sini, tidak ada keharusan untuk memilih diksi yang mengilap, tidak ada tuntutan gaya bahasa yang mencolok, dan tidak ada suara-suara yang meminta agar semuanya terdengar sempurna. Blog ini seperti tempat duduk tua yang nyaman di sudut kafe yang lusuh, tapi selalu bisa menjadi tempat kembali. Dan hari ini, aku ingin bercerita. Tentang sebuah keputusan besar, Resign. Iya, aku akhirnya resign. Sebuah keputusan yang tidak muncul dalam semalam, tidak juga karena amarah atau kekecewaan sesaat. Justru sebaliknya, keputusan ini datang setelah waktu yang panjang, saat aku mulai merasa bahwa pertumbuhan bukan lagi tentang apa yang bisa kudapat, tapi tentang apa yang bisa kuselami. Di usia yang kalau dipikir-pikir sudah cukup untuk menyadari bahwa kenyamanan bisa menjadi jebakan yang halus, aku mulai mempertanyakan ulang tentang untuk apa semua ini? Bukan karena p...

MAAF GUE LEMAH

 8 Desember 2025 Hari ini gue berhenti pura-pura jadi manusia yang utuh.Nggak ada topeng yang gue pakai hari ini yang ada cuma gue, pecah berantakan, dan dunia yang tetap jalan seolah hidup gue nggak pernah retak. GUE CAPEEEEKK!!!! Capek yang nggak bisa lo lihat dari mata gue karena semuanya sudah habis. Capek sampai badan gue berasa kaya mau patah. Capek sampai napas pun rasanya kayak hutang yang gue harus bayar tiap hari. TIAP HARI! Buat orang-orang yang gue kecewain, maaf. Buat orang-orang yang nganggep gue baik, maaf. Buat ortu gue, maaf. Buat keluarga besar gue bahkan setelah kalian ngancurin gue berkali-kali, refleks gue akan tetap minta maaf. Kayak gue diciptain cuma buat salah dan bayar dosa yang bahkan bukan dosa gue. Buat temen-temen yang percaya sama gue, maaf kalau gue nggak bisa jadi versi kuat yang lo pikir gue punya. Gue bangun tiap hari dengan kepala yang berisik, hati yang kosong, dan tubuh yang cuma bergerak karena udah kebiasaan. Gue perang sendirian, dan musuhny...

MICROTEACHING DAY WITH BALI QUICK TALK

31 Oct, 2025 - Amolas Cafe Hari ini aku bangun lebih pagi, meskipun semalam aku baru tidur larut setelah seharian menyiapkan bahan ajar dan materi. Aku sempat bingung harus menyampaikan apa untuk microteaching dengan waktu terbatas, tapi aku harus mengerahkan seluruh kemampuan mengajarku sambil tetap menanamkan nilai yang dibawa oleh platform yang akan aku masuki. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri “Alfa, apa yang paling kamu butuhkan saat ini?” Jawabannya sederhana “Arah.” Dari sana aku langsung memutuskan, DIRECTION akan menjadi tema microteaching-ku. Aku masih ingat hari pertama saat mendapat undangan interview, hujan deras, aku kebasahan, bahkan sempat nyasar ke Batu Belig, HAHAHAHA. Dari pengalaman itu aku sempat membuat peta kecil di kepala tentang Canggu. Lucu, tapi bermakna. Lalu aku teringat lagi motoku: “It’s not only about teaching the head, but also about touching the heart.” Aku ingin murid-muridku nanti juga belajar menyentuh hati mereka sendiri. Maka...