Skip to main content

Kamu tidak salah, aku yang terlambat

Demi Tuhan, aku masih mencintaimu.
Bukan seperti dulu yang hangat dan penuh harapan,
tapi seperti luka yang tidak dijahit, terbuka, basah, 
dan diam-diam membusuk di dalam dada.

Aku masih menginginkanmu,
dan penyesalan terbesarku bukan kehilanganmu,
tapi karena aku pernah punya kesempatan,
dan memilih untuk menjadi pengecut.

Malam itu.
Telepon yang berakhir menjelang subuh.
Seharusnya itu bukan akhir.
Seharusnya itu adalah awal dari keberanian.
Tapi aku memilih diam.

Dan sejak itu, hidupku seperti terhenti di satu detik yang sama
yang terus berulang,
menghukumku dengan versi diriku yang tidak pernah memilihmu.

Aku pergi.
Sejauh mungkin.
Berpura-pura itu adalah keputusan yang bijak.
Padahal itu hanya pelarian yang dibungkus alasan.
Dan selama bertahun-tahun aku mencoba percaya
bahwa kepergianku akan memperbaiki sesuatu.
nyatanya tidak.
Tidak ada yang berubah.
Tidak ada yang sadar.
Tidak ada yang membaik.
Kecuali satu hal,
aku kehilanganmu, BENAR-BENAR KEHILANGANMU.

dan kamu harus menanggung luka dari keputusan yang bahkan bukan milikmu.

Kalau waktu bisa diputar ulang, 
aku tidak ingin memperbaiki diriku.
Aku hanya ingin memperbaiki satu hal.
aku ingin tetap tinggal.
Aku ingin menjadi seseorang yang tidak pergi.
Seseorang yang cukup berani untuk memilihmu,
meskipun dunia di sekelilingku runtuh.

Tapi aku bukan itu.
Aku adalah ketidakpastian yang kau tunggu terlalu lama.
Dan kau lelah.
Dan aku pantas ditinggalkan. 
AKU INGAT SEMUANYA
dan ITU MASALAHNYA.

Perdebatan panjang yang tidak pernah benar-benar selesai,
malam dingin di atas motor yang terasa hangat karena ada kamu,
mie ayam yang rasanya biasa saja tapi jadi istimewa,
warnet, tawa, diam, bahkan marahmu.
semuanya masih utuh di kepalaku,
seperti tidak pernah diberi izin untuk mati.
Dan yang paling menyakitkan.
aku masih rela mengulang semuanya.

Bahkan sekarang.
Bahkan ketika aku tahu aku tidak punya hak lagi.

Hari di stasiun itu, aku tidak pernah benar-benar jujur.
Aku ingin mengenalkanmu.
Aku ingin mengatakan ke dunia bahwa kamu milikku.
Tapi aku melihat diriku sendiri 
yang kosong, yang tidak punya apa-apa,
dan yang takut.

Aku takut kehilangan harga diri,
padahal yang benar-benar hilang adalah kamu.
Dan hari itu, tepat hari ini.
seharusnya aku tahu.
ketakutan sekecil itu akan berubah menjadi penyesalan sebesar ini.

Lalu kabar itu datang.
menikah.

Tidak ada suara.
Tidak ada tangisan yang dramatis.
Hanya hening.
yang tiba-tiba terasa terlalu berat untuk ditahan oleh satu tubuh.
Seperti ada sesuatu di dalam diriku yang runtuh,
bukan perlahan,
tapi sekaligus.

tapi, dunia tetap berjalan.
Orang-orang tetap tertawa.
Langit tetap terang.
Seakan-akan kehilanganmu bukan kiamat.
padahal bagiku, itu akhir dari segalanya.

Aku tidak pernah tumbuh dengan kasih sayang.
Aku tidak tahu bagaimana cara menjaga sesuatu yang baik.
Dan mungkin itu sebabnya ketika kamu datang,
aku tidak mengenalimu sebagai rumah.
Aku mengira kamu hanya tempat singgah.
Padahal kamu satu-satunya tempat yang seharusnya tidak pernah aku tinggalkan.

Sekarang.
aku hidup dengan versi diriku yang tahu segalanya,
tapi sudah terlambat untuk melakukan apa-apa.

Demi Tuhan,
siapapun kamu hari ini,
dengan siapapun kamu berbagi hidup.
aku masih mencintaimu.
masih teramat sangat.
Bukan karena aku berharap kamu kembali,
tapi karena perasaan ini.
tidak pernah pergi sejak awal.

Bagaimana mungkin aku berpindah
dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar aku lepaskan?

Jadi biarkan saja aku di sini.
di tempat yang sama,
di waktu yang sama,
mengingatmu dengan cara yang paling menyakitkan.

Dan kamu cin,
berbahagialah.

Karena setidaknya,
dari semua hal yang aku gagal lakukan untukmu.
aku masih bisa mencintaimu
tanpa mengganggu hidupmu.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JADI MAHASISWA YANG SEPERTI APA?

Dan awal mula cerita berorganisasi pun dimulai …. Euforia mahasiswa baru yang minggu ini mulai memadati kampus membuat saya kembali berkontemplasi, mengingat kembali awal menyandang gelar sebagai mahasiswa. Terlahir dari keluarga yang bukan masuk dalam daftar highclass yang duitnya pun nggak unlimited dan serentetan perjuangan gap years bahkan harus mencari kitab suci ke Pare demi menyandang gelar Mahasiswa membuat saya selalu bergairah diawal-awal saya kuliah that’s why menjadi Mahasiswa adalah salah satu hal yang prestisius bagi saya meskipun bagi sebagian orang itu adalah hal yang biasa saja. Karena keprestisiusan inilah yang menggiring saya pada sekelumit pertanyaan yang muncul tiba-tiba mengusik isi kepala, deretan pertanyaan itu saya simpulkan  menjadi satu pertanyaan “mau jadi mahasiswa yang seperti apa?” Dulu saat masih duduk di bangku sekolah dia pernah bilang bahwa menjadi mahasiswa adalah tentang berkuliah bukan tentang belajar seperti yang kau lakukan di...

MAAF GUE LEMAH

 8 Desember 2025 Hari ini gue berhenti pura-pura jadi manusia yang utuh.Nggak ada topeng yang gue pakai hari ini yang ada cuma gue, pecah berantakan, dan dunia yang tetap jalan seolah hidup gue nggak pernah retak. GUE CAPEEEEKK!!!! Capek yang nggak bisa lo lihat dari mata gue karena semuanya sudah habis. Capek sampai badan gue berasa kaya mau patah. Capek sampai napas pun rasanya kayak hutang yang gue harus bayar tiap hari. TIAP HARI! Buat orang-orang yang gue kecewain, maaf. Buat orang-orang yang nganggep gue baik, maaf. Buat ortu gue, maaf. Buat keluarga besar gue bahkan setelah kalian ngancurin gue berkali-kali, refleks gue akan tetap minta maaf. Kayak gue diciptain cuma buat salah dan bayar dosa yang bahkan bukan dosa gue. Buat temen-temen yang percaya sama gue, maaf kalau gue nggak bisa jadi versi kuat yang lo pikir gue punya. Gue bangun tiap hari dengan kepala yang berisik, hati yang kosong, dan tubuh yang cuma bergerak karena udah kebiasaan. Gue perang sendirian, dan musuhny...

Impulsifitas, Pengangguran, dan Frustasi

Spesies manusia tolol ini akhirnya mengutuk dirinya sendiri. Mengeluh, frustasi, dan sembunyi di balik idealisme yang kadang cuma jadi tameng rapuh. Gue sekarang kayak manusia super tertutup, worthless, dengan impulsifitas akut yang udah mendarah daging. Gue takut ketemu orang. Gue takut banget ngubungin temen. Gue takut minta tolong sama keluarga sendiri. Keluarga hahaha sudahlah jangan dibahas. Gue pura-pura keliatan baik-baik aja padahal pelan-pelan frustasi ini udah mulai ngerobek isi kepala. Lihat aja ngetik ini mata udah berat. Gue bisa nebak apa kata orang-orang kalau tau kondisi gue.  "Lu sekarang pengen kerja kemarin udah kerja lu cabut. Sekarang ngeluh lagi." Iyaaaaa GUE TOLOL! PUAS LO!  Padahal kalau mau flashback fase sekarang sebenernya bukan fase terburuk dalam hidup gue. Gue pernah ada di titik lebih parah. Baru lulus diploma dari Politeknik Negeri Bali. Corona datang. Wisuda online hambar. Lowongan kerja di ghosting. Job market kacau balau. Tabungan makin tipi...