Skip to main content

HARI YANG CUKUP PANIK - Shake it 'till you make it

Hari ini rasanya seperti kegagalan yang patut disyukuri, a beautiful failure.

Beberapa bulan terakhir, aku lebih sering in charge di breakfast section. Jujur, rasanya tidak semeriah shift malam. Malam itu hidup, penuh tantangan, penuh rasa. Cocktail, wine, dan segala minuman berbasis spirit yang dulu terasa asing, bisa kulihat langsung, kuracik sendiri, dan kurasakan dengan tanganku. Tapi sejak lebih sering masuk pagi, ritme hidupku berubah. Secara personal, aku harus bangun subuh, berangkat saat matahari baru mulai “ketawa”, dan pulang ketika dia sudah lelah lalu tenggelam. Ditambah drama macet yang seolah tidak ada habisnya.

Awalnya berat. Lama-lama terbiasa. Tapi ada satu hal yang mengganggu, rasanya seperti jalan di tempat.

Hari-hariku dipenuhi bar preparation, jus, milkshake, smoothies, dan minuman simpel lainnya. Semuanya jadi muscle memory. Tanganku bergerak otomatis, bahkan tanpa perlu berpikir. Dan ya, jarang sekali ada orang yang ingin tipsy di pagi atau siang hari WKWKWK orang yang stressnya udah kebangetan biasanya. Paling banter, kalau ada yang santai di kolam, mereka pesan beer yang bahkan tidak perlu banyak sentuhan dariku.

Sampai beberapa minggu lalu, tiba-tiba ada order Daiquiri dan Espresso Martini datang bersamaan. Deg-degan? Jelas. Tapi juga excited wkwkwk akhirnya botol-botol di bar bisa keluar dari tempat istirahatnya.

Sejak saat itu, setiap ada tamu datang, aku diam-diam berharap semoga mereka pesan cocktail. Bahkan kalau cuma Pina Colada beberapa gelas pun, sudah cukup mengobati bosan. Dalam hati, aku selalu berharap setidaknya ada yang “nembak” signature cocktail yang lebih kompleks.

Dan hari ini doaku terjawab.

Boom!!!! wkwkwkwk

Pagi dimulai dengan gedebag-gedebug. Aku cukup kaget melihat revenue shift malam yang menggelegar. Sudah bisa ditebak kalau Bar Station pasti lagi tidak baik-baik saja. Ditambah lagi, aku bangun kesiangan. Mood berantakan. Sampai di bar, banyak hal belum mise en place dengan sempurna. Hari sudah terasa berat bahkan sebelum benar-benar dimulai.

Belum juga buka, datang dua pasangan romantis. Duduk manis di meja dekat kolam. Orderan awal mereka masih aman. Ya, seputar kopi, jus buah, dan perteluran duniawi, tidak ada yang mengkhawatirkan.

Beberapa jam setelah breakfast, mereka kembali.

Kali ini dengan wajah penuh antusias.

“Virgin mojito and Bloody Mary. Pleaseee!”

Dang.

Bloody Mary? Padahal kita tidak menjual itu di menu dan bagiku personaly bloody mari ini kayak minum bumbu dapur campur vodka wkwkwkwk. Tapi demi memenuhi hasrat mereka yang sedang “menggebu”, aku iyakan. Walaupun ada beberapa ingredients yang memang tidak tersedia.

Dan, ya.

Aku gagal. Salah metode, salah bahan, dan salah-salah lainnya.

Seperti biasa, aku minta maaf, tetap menyajikan Bloody Mary versi “aneh” versiku sebagai complimentary. Untungnya mereka cukup pengertian. Malah jadi ngobrol santai soal cocktail.

Kupikir selesai sampai di situ.

Ternyata belum.

Mereka pindah ke bar station.

“Dry Martini.”

Aku sebenarnya cukup paham. Tapi kali ini, request-nya banyak.

Tidak mau stir harus dishake. Minta extra olive juice. Gin diganti vodka. Dan masih banyak lagi.

Monanges. Ih! Keliatan banget cetek ilmunya aku tuh! Aku memang pengen ada order cocktail, tapi bukan begini juga. Tetap aku jalani, dengan tangan sedikit gemetar. Tapi so far, masih lolos.

Belum selesai.

Mereka lapar. Pesan makanan. Duar! Revenue naik.

Kupikir ini penutup. Ternyata belum lagi.

“Chablis.” Eaaaak.

Ujian cocktail belum selesai, sekarang masuk ke wine.

Aku mulai lari ke chiller, ke store, cari botolnya. Akhirnya ketemu.

Selesai?

Tentu saja tidak.

Mereka tambah lagi. Aperol Spritz. Margarita.

Nah ini! akhirnya wilayahku. LANGSUNG KU SIKAT SEMBARI MEMPERKENALKAN LIQUOR ANDALANKU, TRIPLE SEC.

Walaupun jujur, aku merasa service-ku masih berantakan. Tapi sebelum mereka check out, mereka pesan lagi untuk dibawa pulang.

Dan di situ aku agak lega.

Hari ini memang penuh kegagalan, terutama Bloody Mary yang gagal total, dan Dry Martini yang penuh drama. Tapi setelah itu aku sempat menghubungi senior, minta wejangan. Dari situ aku mulai lebih paham soal style dan pendekatan. Setidaknya margarita-ku berhasil “menyelamatkan” semuanya.

Sampai mereka tipsy, dan sibuk ciuman di pinggir kolam. Wkwkwkwk!

Yak gagal di awal, panik di tengah, tapi tetap diberi satu momen kecil untuk menebus semuanya di akhir.


Yo, Alfa.

Do better next time.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JADI MAHASISWA YANG SEPERTI APA?

Dan awal mula cerita berorganisasi pun dimulai …. Euforia mahasiswa baru yang minggu ini mulai memadati kampus membuat saya kembali berkontemplasi, mengingat kembali awal menyandang gelar sebagai mahasiswa. Terlahir dari keluarga yang bukan masuk dalam daftar highclass yang duitnya pun nggak unlimited dan serentetan perjuangan gap years bahkan harus mencari kitab suci ke Pare demi menyandang gelar Mahasiswa membuat saya selalu bergairah diawal-awal saya kuliah that’s why menjadi Mahasiswa adalah salah satu hal yang prestisius bagi saya meskipun bagi sebagian orang itu adalah hal yang biasa saja. Karena keprestisiusan inilah yang menggiring saya pada sekelumit pertanyaan yang muncul tiba-tiba mengusik isi kepala, deretan pertanyaan itu saya simpulkan  menjadi satu pertanyaan “mau jadi mahasiswa yang seperti apa?” Dulu saat masih duduk di bangku sekolah dia pernah bilang bahwa menjadi mahasiswa adalah tentang berkuliah bukan tentang belajar seperti yang kau lakukan di...

MAAF GUE LEMAH

 8 Desember 2025 Hari ini gue berhenti pura-pura jadi manusia yang utuh.Nggak ada topeng yang gue pakai hari ini yang ada cuma gue, pecah berantakan, dan dunia yang tetap jalan seolah hidup gue nggak pernah retak. GUE CAPEEEEKK!!!! Capek yang nggak bisa lo lihat dari mata gue karena semuanya sudah habis. Capek sampai badan gue berasa kaya mau patah. Capek sampai napas pun rasanya kayak hutang yang gue harus bayar tiap hari. TIAP HARI! Buat orang-orang yang gue kecewain, maaf. Buat orang-orang yang nganggep gue baik, maaf. Buat ortu gue, maaf. Buat keluarga besar gue bahkan setelah kalian ngancurin gue berkali-kali, refleks gue akan tetap minta maaf. Kayak gue diciptain cuma buat salah dan bayar dosa yang bahkan bukan dosa gue. Buat temen-temen yang percaya sama gue, maaf kalau gue nggak bisa jadi versi kuat yang lo pikir gue punya. Gue bangun tiap hari dengan kepala yang berisik, hati yang kosong, dan tubuh yang cuma bergerak karena udah kebiasaan. Gue perang sendirian, dan musuhny...

Impulsifitas, Pengangguran, dan Frustasi

Spesies manusia tolol ini akhirnya mengutuk dirinya sendiri. Mengeluh, frustasi, dan sembunyi di balik idealisme yang kadang cuma jadi tameng rapuh. Gue sekarang kayak manusia super tertutup, worthless, dengan impulsifitas akut yang udah mendarah daging. Gue takut ketemu orang. Gue takut banget ngubungin temen. Gue takut minta tolong sama keluarga sendiri. Keluarga hahaha sudahlah jangan dibahas. Gue pura-pura keliatan baik-baik aja padahal pelan-pelan frustasi ini udah mulai ngerobek isi kepala. Lihat aja ngetik ini mata udah berat. Gue bisa nebak apa kata orang-orang kalau tau kondisi gue.  "Lu sekarang pengen kerja kemarin udah kerja lu cabut. Sekarang ngeluh lagi." Iyaaaaa GUE TOLOL! PUAS LO!  Padahal kalau mau flashback fase sekarang sebenernya bukan fase terburuk dalam hidup gue. Gue pernah ada di titik lebih parah. Baru lulus diploma dari Politeknik Negeri Bali. Corona datang. Wisuda online hambar. Lowongan kerja di ghosting. Job market kacau balau. Tabungan makin tipi...