Skip to main content

Pak Frank Resign

Kita tahu, cepat atau lambat, akan ada perpisahan setelah sebuah pertemuan terjadi.

Tapi tetap saja, kita selalu pura-pura lupa. Kan?

Pak Frank adalah orang pertama yang membuka pintu itu untukku. Di saat aku sendiri bahkan ragu untuk mengetuk. Aku datang dengan gap, dengan cerita gagal yang terlalu panjang untuk dijelaskan di satu CV. Dengan rasa tidak layak yang diam-diam aku bawa ke mana-mana. Dan di antara banyak pintu yang tidak pernah benar-benar terbuka, beliau justru mengizinkan aku masuk.

Aku masih ingat pagi itu ....

Di sebuah meja di Hierarki Coffee, Renon. Kopi belum habis, tapi harapan sudah setengah aku tahan. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Aku baca. Aku diam. Aku senyum sedikit. Lalu seperti biasa, aku menurunkan ekspektasi karena aku sudah belajar, berharap terlalu tinggi itu berbahaya.

"Sebab patah hati adalah kegagalan yang tidak pernah kita siapkan."

Jadi aku hanya bilang dalam hati  “Kalau ini untukku, dekatkan. Kalau bukan, kuatkan.”

Di awal Desember itu, beberapa jawaban datang bersamaan. Beberapa pintu yang dulu tertutup, tiba-tiba terbuka. Beberapa orang yang dulu diam, mulai memberi respon. Dan di tengah semua itu ada sesorang bernama Pak Frank. Aku sempat bingung. Mana yang benar-benar jalan, mana yang hanya persimpangan. Tapi entah kenapa, aku memilih untuk menjawab pesan beliau. Interview kami sederhana. Tidak ada tekanan, tidak ada jebakan. Seolah beliau hanya ingin mengenalku, bukan mengujiku. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa cukup.

Aku pulang dengan harapan yang tidak berani aku rayakan.

Sampai akhirnya aku dipanggil lagi. Tahap berikutnya. Lebih dekat. Lebih nyata. Aku belajar semalaman untuk service simulation. Bertemu owner secara daring. Dan jujur saja, aku merasa sebab banyak pertanyaan teknikal yang tidak bisa aku jawab dengan baik.Aku tahu itu. Aku sadar itu. Aku sudah siap untuk kehilangan kesempatan itu.

Tapi ternyata tidak. Mereka tetap menerimaku. Bukan karena aku yang paling siap. Tapi mungkin karena mereka melihat sesuatu yang bahkan aku sendiri belum lihat. Aku mulai bekerja di pertengahan Desember.

Dan semua rasa deg-degan sepanjang 2025 rasanya seperti menemukan tempatnya di akhir tahun.

Aku pikir, cerita ini akan panjang.

Tapi seperti semua cerita lainnya, ternyata ada bagian yang harus selesai lebih dulu. Hari ini, Pak Frank resmi melepas jabatannya sebagai General Manager.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada kata-kata besar.

Hanya momen biasa yang entah kenapa terasa berat.

Aku tidak menangis.

Aku juga tidak tahu harus merasa apa.

Tapi ada satu hal yang diam-diam aku sadari,

aku kehilangan seseorang yang dulu percaya padaku bahkan sebelum aku percaya pada diriku sendiri. Mungkin, itu yang paling sulit diganti.

Sekarang, semuanya akan berjalan seperti biasa.

Shift tetap berjalan, Tamu tetap datang, dan Aku akan tetap menghadapi dengan senyuman.

Tapi ada satu kebiasaan kecil yang tertinggal.

Double shot espresso.

Satu sachet gula.

Setiap kali  beliau mulai mengantuk saat kerja atau saat-saat beliau memulai pekerjaan seriusnya sekitar pukul 9-10 Pagi.

Hal sederhana yang dulu terasa biasa,  sekarang jadi pengingat bahwa pernah ada seseorang di sini, yang tanpa banyak bicara mengubah arah hidupku.

Bon voyage, Pak.

Semoga yang Bapak kejar.

jauh lebih besar dari apa yang ditinggalkan.

Salam, 

Si yang akhirnya menjadi pewaris double shot espresso+1 sachet gula

Comments

Popular posts from this blog

MAAF GUE LEMAH

 8 Desember 2025 Hari ini gue berhenti pura-pura jadi manusia yang utuh.Nggak ada topeng yang gue pakai hari ini yang ada cuma gue, pecah berantakan, dan dunia yang tetap jalan seolah hidup gue nggak pernah retak. GUE CAPEEEEKK!!!! Capek yang nggak bisa lo lihat dari mata gue karena semuanya sudah habis. Capek sampai badan gue berasa kaya mau patah. Capek sampai napas pun rasanya kayak hutang yang gue harus bayar tiap hari. TIAP HARI! Buat orang-orang yang gue kecewain, maaf. Buat orang-orang yang nganggep gue baik, maaf. Buat ortu gue, maaf. Buat keluarga besar gue bahkan setelah kalian ngancurin gue berkali-kali, refleks gue akan tetap minta maaf. Kayak gue diciptain cuma buat salah dan bayar dosa yang bahkan bukan dosa gue. Buat temen-temen yang percaya sama gue, maaf kalau gue nggak bisa jadi versi kuat yang lo pikir gue punya. Gue bangun tiap hari dengan kepala yang berisik, hati yang kosong, dan tubuh yang cuma bergerak karena udah kebiasaan. Gue perang sendirian, dan musuhny...

Impulsifitas, Pengangguran, dan Frustasi

Spesies manusia tolol ini akhirnya mengutuk dirinya sendiri. Mengeluh, frustasi, dan sembunyi di balik idealisme yang kadang cuma jadi tameng rapuh. Gue sekarang kayak manusia super tertutup, worthless, dengan impulsifitas akut yang udah mendarah daging. Gue takut ketemu orang. Gue takut banget ngubungin temen. Gue takut minta tolong sama keluarga sendiri. Keluarga hahaha sudahlah jangan dibahas. Gue pura-pura keliatan baik-baik aja padahal pelan-pelan frustasi ini udah mulai ngerobek isi kepala. Lihat aja ngetik ini mata udah berat. Gue bisa nebak apa kata orang-orang kalau tau kondisi gue.  "Lu sekarang pengen kerja kemarin udah kerja lu cabut. Sekarang ngeluh lagi." Iyaaaaa GUE TOLOL! PUAS LO!  Padahal kalau mau flashback fase sekarang sebenernya bukan fase terburuk dalam hidup gue. Gue pernah ada di titik lebih parah. Baru lulus diploma dari Politeknik Negeri Bali. Corona datang. Wisuda online hambar. Lowongan kerja di ghosting. Job market kacau balau. Tabungan makin tipi...

JANGAN BIARKAN INTROVERT MEMBUNUHMU

Sebenarnya aku ingin menulis panjang tentang bagaimana aku bisa terdampar di Bekasi setelah memutuskan resign dari kantor di Jakarta, lalu menerima segala bentuk kebaikan dari sekitar. Tapi sebelum jauh ke sana, ada satu hal penting yang aku pelajari hari ini bahwa kita perlu membuka diri dan menunjukkan siapa diri kita, apa aktivitas kita. Bukan untuk validasi, melainkan untuk mencegah stigma dan menjaga kewarasan sekitar. "Nama baik perlu ditunjukkan, bukan dibiarkan." Sebelum cerita panjang ini dimulai, izinkan aku menyampaikan permohonan maaf yang paling dalam, juga ucapan terima kasih yang rasanya tak akan pernah cukup dituliskan di sini. Untuk Hafiz, member di kelas pronun half-ku beberapa tahun lalu, terima kasih sudah menyelamatkanku, sekaligus memberikan pelajaran berharga hari ini. Here we go ....  Hari ini hari Minggu. Setelah sepekan aku disibukkan dengan segala persembunyian, akhirnya aku jujur bahwa aku kehilangan pekerjaan dan sedang berada di ujung kota Bekasi...