Setelah drama hidup kembali membawaku ke Bali, akhirnya aku memutuskan pulau ini sebagai tempat untuk mengumpulkan lagi puing-puing mimpi lama yang sempat runtuh. Kali ini aku datang bukan dengan rencana menetap selamanya. Semoga saja Bali hanya menjadi tempat singgah, tempat buat berteduh sebentar sambil pelan-pelan belajar percaya lagi sama hidup. Eh, apa sih. Baru juga mulai sudah sok puitis. Padahal beberapa jam setelah menginjakkan kaki di Bali, kenyataan langsung menyadarkanku kalau urusan paling mendesak bukan mencari makna hidup, melainkan mencari kos. Iya, kos. Tempat yang kelihatannya sederhana, tapi entah kenapa proses mencarinya bisa lebih melelahkan daripada interview kerja.
Aku pernah membaca sebuah komentar di grup Facebook yang bunyinya, "Nyari kos di Bali lebih susah daripada nyari kerja." Waktu itu aku cuma ketawa. Setelah beberapa hari muter-muter dari Jimbaran, Ungasan, Pecatu, sampai Nusa Dua, keluar masuk gang, berhenti di depan rumah yang ternyata bukan kos, menghubungi puluhan nomor WhatsApp yang sebagian besar dibalas dengan kalimat, "Maaf Mas, sudah penuh," aku mulai percaya kalau komentar itu ada benarnya. Bahkan rasanya nyari pasangan hidup masih lebih gampang. Pasangan bisa diajak kompromi, sedangkan ibu kos biasanya cuma punya dua jawaban "Masih kosong," atau yang lebih sering kudengar, "Sudah ada yang booking."
Eh, tapi memang nyari kerja di Bali segampang itu? Menurutku iya dan tidak. Lowongan kerja entry level sebenarnya bertebaran. Hampir setiap hari aku melihat tulisan Open Vacancy ditempel di depan restoran, coffee shop, toko oleh-oleh, bahkan warung makan. Mau jadi waiter, kitchen crew, packing, helper, housekeeping, semua ada. Yang belum pernah kutemukan cuma lowongan jadi anak sultan. Masalahnya baru muncul setelah gaji pertama bertemu harga kos. Di situlah aku sadar kalau bekerja dan bertahan hidup ternyata dua mata pelajaran yang berbeda.
Selama berburu kos aku merasa berubah profesi menjadi agen properti yang tidak digaji awikwokawikwok. Pagi buka grup Facebook, siang menghubungi nomor dari Google Maps, sore menyusuri gang-gang kecil yang bahkan Google Maps sendiri kadang terlihat bingung. Aku sampai hafal jalan tikus di Bali Selatan. Rasanya kalau ada lomba tebak gang di Jimbaran, mungkin aku sudah layak jadi juri. Dari perjalanan itulah aku mulai paham kalau harga kos di Bali Selatan sebenarnya punya pola sendiri. Kurang lebih beginilah hasil pengamatanku setelah berkali-kali ditolak, datang ke kos yang fotonya jauh lebih bagus daripada aslinya, sampai pernah sengaja motoran hampir satu jam hanya untuk mendengar kalimat, "Maaf Mas, baru saja ada yang DP lima menit sebelum Mas datang."
Kalau budgetmu sekitar Rp1,5 juta, biasanya kamu akan dihadapkan pada dua pilihan: kos kosong dengan kamar mandi dalam, atau kos yang sudah berisi kasur, lemari, dan kipas angin tetapi kamar mandinya masih sharing. Naik sedikit ke kisaran Rp1,6–1,7 juta, fasilitas mulai terasa lebih manusiawi karena umumnya sudah ada kasur, lemari, kamar mandi dalam, dan kipas angin. Di harga Rp1,8–1,9 juta, AC mulai muncul sebagai penyelamat hidup, ditambah meja kerja yang membuat kita merasa produktif, padahal lebih sering dipakai naruh baju yang belum dilipat. Kalau sudah menyentuh Rp2 juta, biasanya bonusnya water heater, dapur bersama yang lebih layak, kadang ada chiller, bahkan beberapa tempat mulai terasa seperti tinggal di hotel kecil. Di atas Rp2,5 juta, fasilitasnya tinggal masuk bawa koper. Sisanya tinggal cari uang supaya bulan depan tidak diusir.
Lalu bagaimana dengan kos di bawah satu juta? Ada. Sungguh ada. Tapi menemukannya rasanya seperti menemukan uang seratus ribu di saku celana yang sudah lama tidak dipakai. Kalaupun ketemu, biasanya ada "syarat dan ketentuan berlaku". Lokasinya makin masuk ke dalam, temboknya mulai lembap, kamar mandinya berbagi, atau jalannya lebih cocok dipakai latihan reli daripada berangkat kerja. Dari semua drama itu akhirnya aku membuat standar sendiri. Kalau kos di bawah satu juta dan masih kosong, tidak masalah, selama bangunannya masih layak. Tapi kalau sudah lewat satu juta masih kosong melompong, aku langsung mundur teratur. Aku mencari tempat tinggal, bukan proyek renovasi. Kalau harganya satu sampai satu setengah juta, minimal harus ada kasur, lemari, dan kamar mandi dalam. Di atas satu setengah juta, AC sudah bukan kemewahan lagi, tapi kebutuhan. Dan kalau sudah mendekati dua juta, menurutku water heater, dapur bersama, dan fasilitas lain sudah wajib hukumnya. Kalau tidak ada, ya mending cari yang lain.
Lucunya, teori itu baru muncul setelah aku berkali-kali salah pilih. Kos pertamaku harganya dua juta. Fasilitasnya lengkap, bahkan ada kulkas di dalam kamar. Aku pikir hidupku mulai naik kelas. Ternyata yang naik kelas cuma tagihan listrik karena ventilasinya buruk dan AC hampir tidak pernah mati. Aku pindah ke kos berikutnya seharga satu juta delapan ratus ribu. Kali ini ada water heater, meja kerja, bahkan kolam renang. Rasanya seperti tinggal di resort. Sayangnya, gajiku tetap gaji karyawan, bukan gaji owner. Akhirnya aku menyerah lagi sampai suatu hari menemukan kos seharga sembilan ratus lima puluh ribu. Isinya sederhana: kasur, sprei, bantal, guling, kipas angin, lemari, dan kamar mandi bersama. Ember mandinya bekas cat tembok, perjalanan ke tempat kerja hampir lima puluh menit melewati jalan yang kanan-kirinya masih dipenuhi pepohonan dan aspal berlubang, tetapi anehnya justru di sanalah aku mulai belajar bahwa memilih kos itu bukan soal mencari tempat yang paling nyaman. Kadang kita cuma sedang mencari tempat yang membuat dompet tetap hidup sampai tanggal gajian berikutnya.
awikwokwok, apakah aku akan menulis tentang kos-kosan?

Comments
Post a Comment