Skip to main content

Posts

Unpredictable Trip to Gunung Batur

Warning : Pendakian gunung batur yang saya akan ceritakan pada postingan kali ini tidak dapat ditiru dan tidak mengandung unsur edukasi hanya bernostagia, I went there without any proper preparation, research, and gear. Mengingat banyaknya kasus hyportemia atau kejadian-kejadian yang kurang mengenakan terjadi di gunung maka dengan penuh kerendahan hati saya memohon maaf untuk itu, tapi biarlah ini menjadi cerita dan pembelajaran bagi diri saya sendiri dan mungkin teman-teman yang kebetulan membaca. 1.717 mdpl tinggi gunung yang dimiliki Batur ini selalu memiliki daya pikat untuk menapakan kaki ditanahnya yang harum, lanskap yang menakjubkan, serta dingin yang mampu menelisik pori-pori kulit dengan lembut kemudian menguasai. 2019, menjadi tahun paling terkutuk yang pernah gue alami kesibukan sebagai mahasiswa nocturnal yang nggak hanya menghabiskan waktu dibangku perkuliahan tapi juga kesekretariatan dan tongkrongan pinggir jalan ngebuat intensitas jalan-jalan gue berkuran...

Bacut

Malam ini boleh kita bercerita tentang  semu sang perecok yang berselumu dalam angan? seperti kecalingan yang tumbuh subur menjalar dibawah pagar-pagar beton gedung tua itu. Sejujurnya saat akhirnya aku berhasil menerimamu hanya sebatas donganku, aku berbohong, karena sebenarnya ada begitu banyak rasa-rasa yang tidak pernah aku lihatkan. Kamu menganggap kita telah sampai pada titik adalat tapi nyatanya masih ada “tidak” yang tersirat sejatinya kita tidak pernah sampai pada kata sepakat sebab semakin kita jauh bukankah kita semakin merasa terikat? Atau ini hanya perasaanku saja? Bunyi alosu malam itu membuatku tidak berhenti untuk terus menyemai tiap kisah yang pernah sama-sama terlewati. Ia tidak pernah berlalu begitu saja. Melodi-melodinya berhasil membaji hati, membentuk dimensi yang akhirnya mengijinkanmu untuk masuk kembali, ah! Aku benci hal ini. Masih ingat saat kali pertama aku mekasamu meminum bratawali? Gerak-gerik aversimu membuatku semakin menginginkanmu un...

Menyendiri adalah Galib

Sebagian teman-teman gue memandang gue sebagai orang yang memiliki hobi yang membosankan.  Yap, jalan-jalan sendiri, pergi ke caffe sendiri, dan every single things yang berbau-bau kesendirian. Gue bukan penderita schizoid pun avidant personality disorder atau salah satu member dari kaum anti-sosial, bukan. Gue tetaplah kaum proletar yang terkadang memang menghadiahkan ruang bagi partikel terkecil didalam hati  gue dengan gue sendiri. Tapi harus gue klarifikasi pun ketika gue suka duduk di coffeshop sendiri memandangi jalanan, sibuk dengan gawai, laptop, bahkan membaca buku juga membaca manusia dari cara mereka saling berinteraksi, saling tertawa bahkan saling bertatap bagi gue itu menyenangkan tapi you need to know that sometimes I need someone to talk with. The conclusion is I love to be in a company but at the same time I need my own space. Awalnya, seperti manusia pada umumnya gue juga menikmati saat-saat gue harus nongkrong bareng mereka, tertawa bareng mereka, ...

Dua Cangkir Kopi untuk BEM - Cangkir Pertama

Perjalanan selalu berhasil mengantarkan saya ketempat-tempat indah, larut dalam tiap romansa, kidung, kisah, airmata dan tawa disana kemudian hal terberat dalam sebuah perjalanan adalah ketika saya terlalu terlena disana hingga lupa bahwa sejatinya tempat yang pernah saya panggil rumah itu bukanlah rumah sesungguhnya. Saya paham sekali bahwa kehidupan adalah tentang bertemu dan berpisah, tentang mencinta dan merela, tentang bahtera, renjana kemudian mereduksi lalu pergi. Menyedihkan memang tapi yah begitulah semua ini pada akhirnya berjalan seperti seharusnya. Hari ini tetiba dingin datang, secangkir kopi yang biasa saya nikmati bersama mereka yang dulu saya sebut sebagai kawan seperjuangan, sekarang saya harus sedikit menerima jika pada akhirnya secangkir kopi ini kemudian harus saya nikmati sendiri. Kabinet terakhir yang kami sebut dengan kabinet SIAPBerkarya kini sudah saatnya, wes wayahe menjadi kabinet SIAPBerlalu muehehehe. Semua ini tidak akan terjadi tanpa dukungan d...

Mimpi Keliling Indonesia

Sejauh apapun gue coba berlari, sekeras apapun orang lain mencoba ngebuat gue nggak percaya diri bagi gue mimpi tetaplah mimpi. Merawat impian adalah tentang berefleksi agar kita tidak lupa kemana dulu kita ingin melangkah. Siang itu sekolah gue sedang ada sosialisasi tentang self development gitu maklumlah masa-masa akhir sekolah adalah masa-masa krisis jati dirinya para siswa, seorang narasumber dari salah satu perusahaan berbicara tentang impian, gue masih ingat betul perkataannya bahwa di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin selama kita mau bermimpi dan berani mewujudkannya, konsisten dan tekun maka semesta pasti akan mendukung. Beliau mulai memotivasi kami dengan berbagai video dan materi, diakhir sesi beliau menyuruh kami mengambil sebuah kertas dan pena kemudian tiap-tiap siswa diharuskan melihat dirinya sendiri dimasa depan kemudian menuliskan mimpi-mimpi kami pada kertas yang sudah kami pegang masing-masing. Saat itu gue nulis “Keliling Indonesia” sembari mengingat kembali...

BICARA PATAH HATI

Manifestasi dari emosi akibat kehilangan sesuatu yang seringkali kita sebut sebagai cinta adalah patah hati. Move on memang tidak pernah menjadi segampang menjalankan petuah-petuah dari Mario Teguh, setiap dari kita setidaknya pasti pernah merasakan rasanya patah hati entah pada pemaknaan yang personal maupun universal. Menjadi single a.k.a Jomlo dalam waktu yang tidak sebentar itu bukanlah sesuatu yang mudah. Siapa yang tidak ingin memiliki pasangan yang dapat diajak berbagi dalam keadaan apapun? Siapa yang tidak iri melihat pasangan romantis yang dapat traveling bersama? Bergandengan tangan? Berbagi kelakar? Seolah-olah dunia milik mereka berdua. Saya rasa semua manusia menginginkannya. Lalu bagaimana dengan saya? Yap, tepat sekali pertanyaan seperti itu kerap datang memenuhi isi kepala tiba-tiba sebab teman-teman yang begitu menyayangi saya selalu menanyakannya. Mungkin bagi mereka yang mengenal saya secara personal dan mengerti drama percintaan saya akan berfikir bahwa saya s...

Kesan Menjadi Peserta LKMM TM 2019 KEMENRISTEKDIKTI - Bali

“Setiap tempat memiliki ceritanya masing-masing apapun yang dilakukan singkat pun lama selalu memberikan kenangan dan kesan yang susah untuk dilupakan tapi ia mungkin akan memudar seiring dengan hadirnya kenangan-kenangan baru yang telah menunggu didepan sana. Hanya kata semoga yang mampu mengingatkan kembali pembelajaran yang tersemai dalam tiap inchi kenangannya” – LKMM TM 2019 DIARY – ATANAYA HOTEL Bersama delegasi dari seluruh perguruan tinggi di Bali Pertama, aku mau ngucapin super terimakasih kepada Presiden Mahasiswa dan teman-teman di BEM KBM PNB 2019 yang telah memberikan restu untuk menjadi salah satu delegasi kampus untuk menyemai ilmu di LKMM TM 2019 yang diadakan kemeristekdikti meskipun aku paham seharusnya masih ada beberapa tanggung jawab yang harus aku selesaikan, serentetan rapat yang harus dihadiri, dan masih banyak lagi. Terimakasih sudah sudih dan selalu sudih mem- back up semuanya. Sesuai janji, akan ku bagi ilmu yang ku dapat kepada kalian semua wah...