Skip to main content

Posts

Refleksi

Hari ini –puluh tahun lalu, Bapala mungkin jadi manusia paling bahagia didunia mungkin pula menjadi manusia paling menyedihkan jika pada akhirnya ia tahu bahwa sperma terhebatnya menghasilkan anak manusia yang liar, keras, dan suka membantah. Seperti biasa, saya tidak dibesarkan dengan perayaan-perayaan yang meriah, mungkin mereka lupa (saya juga berharap mereka benar-benar lupa) bahwa hari ini adalah hari dimana saya dilahirkan dunia sebab saya benar-benar tidak menginginkan perayaan apa-apa, hadiah apa-apa, bahkan sekedar ucapan yang apa-apa pula. Momentum ulang tahun adalah momentum yang teramat personal bagi saya, refleksi dan evaluasi yang sama personalnya. Saya tidak mau orang lain bahkan orang-orang terdekat saya mengintevensinya. Biarlah ia menjadi milik saya, hanya milik saya. Hari ini, pada usia yang sama dengan saya dia - seseorang yang sama resahnya dengan saya – meninggalkan dunia dengan senyum yang paling bahagia (saya rasa) namun nafasnya tetap terasa hangatnya menguda...

NOSTALGIA (Sebuah Proses Belajar Bahasa Inggris)

Saat gue menulis ini gue masih tercatat sebagai pejuang Bahasa Inggris yang masih mencoba berkawan baik dengan segala bentuk aturan tatanan bahasa yang sering kali membuat gue jarang bisa tertidur pulas. Semalam gue mengalami kejadian yang nggak terduga, entah bagaimana ceritanya pukul tiga dini hari mendadak perut gue sembelit, gue berada di posisi antara terbangun dan masih tertidur, otak gue belum dapat bekerja maksimal, mendadak gue ngebuat kalimat dengan konsep dua kejadian dan conditional sentence mengaitkan dua hal yang terjadi dan gue rasakan sampai akhirnya gue terbangun dan berjalan menuju toilet. Pagi, setelah kejadian itu saat baru saja gue “benar-benar bangun”gue tertawa sendiri teringat kekonyolan beberapa jam lalu, bisa-bisanya gue masih mikir Bahasa Inggris dalam kondisi setengah sadar dan hebatnya itu muncul aja gitu dengan tiba-tiba tanpa gue minta. Entahlah itu sebagai tanda gue mulai mencintai segala bentuk grammar atau memang kondisinya mendekati ujian sehingga Bah...

Pergi

Tidak ada yang jauh lebih mengerikan selain terjebak dalam kegamangan yang tak kunjung pecah kebuntuannya. Malam itu dingin menembus pori-pori dengan lirih, dinding seakan menciptakan retakan-retakan yang enggan dijelaskan, atap bergetar, kepala terus berbisik hingga berbusuk. Dua bola mata yang dipaksa sedari tadi untuk segera terpejam terus saja melakukan manuver perlawanan, sial! Suara jam dinding terdengar seperti kumpulan alat musik orkestra mengiringi kepala yang tidak pernah berhenti bernyanyi dengan nada-nada busuknya. Aku benci, sangat benci situasi ini, ku ambil dua sachet obat batuk yang tergeletak di meja depan ranjangku, dan blep! Tertelan habis. Aku memohon agar ia dapat berubah menjadi satuan pengamanan, menjagaku dari penyamun pikiran yang terus menerus berputar. Aku hanya meminta satu, aku ingin tertidur, lelap, tanpa ada gangguan, tenang. Wisuda, mimpi buruk yang akhirnya jadi nyata. Bukankah ia harusnya bermanifestasi menjadi perihal yang suka cita? Saat teman-tema...

Probabilitas

  Lalu kenapa angan masih mengawang seperti dersik yang tidak pernah mampu menyapu arunika? Bukankah tidak semua yang memulai dari garis terdepan akan memenangkan perlombaan? Lalu kenapa angan masih mengawang seperti dersik yang tidak pernah mampu menyapu arunika? Kepala ini ingin menyesap jutaan kisah Eunoia namun ia selalu dihadapkan pada candramawa yang entah kapan akan berubah menjadi adiwarna, mungkin dia sedang menikmati proses evolusinya atau dia sedang tidak tahu pada jalan mana dia harus melangkah? Seperti merasa lebur namun tidak juga hancur. Beberapa minggu ini rasanya kepala sedang ramai-ramainya dihinggapi mimpi-mimpi yang nggak ngerti bagaimana harus mulai dieksekusi. Keluhan yang nampaknya dialami oleh hampir semua orang yang mulai kehilangan jalan. Dia hanya butuh tempat untuk menumpahkan namun tak kunjung mendapatkan, akhirnya? Instagram lagi-lagi menjadi media menumpahkan berbagai sambatan yang tak kunjung menemukan jalan keluar. Malam itu semua serasa abu-abu, ...

Unpredictable Trip to Gunung Batur

Warning : Pendakian gunung batur yang saya akan ceritakan pada postingan kali ini tidak dapat ditiru dan tidak mengandung unsur edukasi hanya bernostagia, I went there without any proper preparation, research, and gear. Mengingat banyaknya kasus hyportemia atau kejadian-kejadian yang kurang mengenakan terjadi di gunung maka dengan penuh kerendahan hati saya memohon maaf untuk itu, tapi biarlah ini menjadi cerita dan pembelajaran bagi diri saya sendiri dan mungkin teman-teman yang kebetulan membaca. 1.717 mdpl tinggi gunung yang dimiliki Batur ini selalu memiliki daya pikat untuk menapakan kaki ditanahnya yang harum, lanskap yang menakjubkan, serta dingin yang mampu menelisik pori-pori kulit dengan lembut kemudian menguasai. 2019, menjadi tahun paling terkutuk yang pernah gue alami kesibukan sebagai mahasiswa nocturnal yang nggak hanya menghabiskan waktu dibangku perkuliahan tapi juga kesekretariatan dan tongkrongan pinggir jalan ngebuat intensitas jalan-jalan gue berkuran...

Bacut

Malam ini boleh kita bercerita tentang  semu sang perecok yang berselumu dalam angan? seperti kecalingan yang tumbuh subur menjalar dibawah pagar-pagar beton gedung tua itu. Sejujurnya saat akhirnya aku berhasil menerimamu hanya sebatas donganku, aku berbohong, karena sebenarnya ada begitu banyak rasa-rasa yang tidak pernah aku lihatkan. Kamu menganggap kita telah sampai pada titik adalat tapi nyatanya masih ada “tidak” yang tersirat sejatinya kita tidak pernah sampai pada kata sepakat sebab semakin kita jauh bukankah kita semakin merasa terikat? Atau ini hanya perasaanku saja? Bunyi alosu malam itu membuatku tidak berhenti untuk terus menyemai tiap kisah yang pernah sama-sama terlewati. Ia tidak pernah berlalu begitu saja. Melodi-melodinya berhasil membaji hati, membentuk dimensi yang akhirnya mengijinkanmu untuk masuk kembali, ah! Aku benci hal ini. Masih ingat saat kali pertama aku mekasamu meminum bratawali? Gerak-gerik aversimu membuatku semakin menginginkanmu un...

Menyendiri adalah Galib

Sebagian teman-teman gue memandang gue sebagai orang yang memiliki hobi yang membosankan.  Yap, jalan-jalan sendiri, pergi ke caffe sendiri, dan every single things yang berbau-bau kesendirian. Gue bukan penderita schizoid pun avidant personality disorder atau salah satu member dari kaum anti-sosial, bukan. Gue tetaplah kaum proletar yang terkadang memang menghadiahkan ruang bagi partikel terkecil didalam hati  gue dengan gue sendiri. Tapi harus gue klarifikasi pun ketika gue suka duduk di coffeshop sendiri memandangi jalanan, sibuk dengan gawai, laptop, bahkan membaca buku juga membaca manusia dari cara mereka saling berinteraksi, saling tertawa bahkan saling bertatap bagi gue itu menyenangkan tapi you need to know that sometimes I need someone to talk with. The conclusion is I love to be in a company but at the same time I need my own space. Awalnya, seperti manusia pada umumnya gue juga menikmati saat-saat gue harus nongkrong bareng mereka, tertawa bareng mereka, ...