Skip to main content

Posts

Sekolah dan Kisah Cintanya

  “ Bukan ku menolakmu untuk mencintaiku Tetapi lihatlah dulu siapakah diriku Karena engkau dan aku sungguh berbeda Kau orang kaya, aku orang tak punya Sebelum terlanjur fikir-fikirlah dulu Sebelum engkau menyesal kemudian ” Hahaha sebelum memulai tulisan ini, saya ingin tertawa sepuas-puasnya mengingat kegelian masa lalu yang cukup pahit. Berawal dari terkesimanya seorang Alfa terhadap penampilan salah satu kontestan Indonesian Idol; Paul ketika membawakan lagu dangdut dari Hamdan Att yang berjudul termiskin di dunia yang akhirnya melemparnya kembali pada kenangan-kenangan usang. Lirik yang syarat akan makna itu, memukul kepalanya untuk mengingat ke- insecure- an terbesar yang pernah dia hadapi bersama cinta monyetnya di masa sekolah. Saya tahu, diluar sana masih ada beberapa perempuan yang tidak memandang harta sebagai salah satu tolok ukur kecintaannya terhadap laki-laki tapi mau tak mau masalah finansial selalu menjadi masalah utama kenapa laki-laki merasa sebegit...

Seputar Niat Baik dan Team

  “ Sekalipun tak sesuai definisi sukses versi komunal, akan selalu ada peran baik yang dapat diambil ” adalah kalimat yang pernah saya terima saat masih aktif menjabat sebagai kepala bidang penalaran dan keilmuan di organisasi mahasiswa yang saya ikuti di kampus. Saya masih ingat betul rasanya tidak mendapat dukungan dari pihak-pihak yang katanya ada untuk menyuarakan aspirasi-aspirasi mahasiswa. Semua rasanya memilih bungkam ketika harus berurusan dengan hal-hal yang seharusnya menjadi muruah adanya organisasi mahasiswa itu sendiri. Saat itu saya merasa sangat muak melihat orang-orang memperdebatkan kegiatan-kegiatan budgeting yang sebenarnya hanya akan menaikan nama kampus diluar namun didalam masih banyak mahasiswa-mahasiswa yang perlu didengar suara-suaranya. Dipanggilnya beberapa senior saya oleh petinggi kampus karena mempublikasikan informasi penurunan UKT dari kemenristekdikti di laman media sosial ormawa   membuka mata saya bahwa ternyata ada beberapa hal yang seb...

Melelah

Hari ini 6 Maret 2023 menjadi hari yang cukup melelahkan. Ternyata menjadi seorang kepala divisi dalam sebuah lembaga pendidikan itu cukup menguras isi kepala. Dua minggu ini saya memainkan peran sebagai seorang guru bimbingan konseling yang menuntut saya untuk lebih membuka telinga lebih lebar, melapangkan hati seribu kali lebih luas dari biasanya. Jangankan untuk memahami orang lain, memahami diri sendiri pun masih menjadi salah satu kemampuan yang perlu untuk terus saya asah. Tidak hanya menanangani tutor-tutor yang bermasalah tapi juga murid-murid yang kelakuannya ada-ada saja. Mungkin, Tuhan sedang menguji tagline yang saya sematkan pada divisi yang saya pegang yakni “ it’s not only about teaching the head but also touching the heart.”   Yap, ada begitu banyak hal yang kemudian tak hanya memeras kepala saya tapi juga hati saya. Sebenarnya ketika tutor-tutor asrama mampu menangani masalah-masalah internalnya tanpa campur tangan saya, itu adalah sebuah kenikmatan yang tidak ada ...

THE WINNER

"In the end, it ain’t about winning the stage but it’s about winning yourself." He won AF Show after losing his confidence show stage The transition period of my life has just begun. I was approached to fill a new position in the institution I am working at which is the head of the department of a 2/3-month camp. I was not sure about the feeling I had. At the same time, I was sad because I had to leave the place which taught me many things, camp. On the other hand, I was happy because I would be able to create something that I called a “playing system” to broaden up the programs we had in terms of helping those who need to be helped. However, it was not as easy as I thought. I fought my idealism sometimes, I am in the midst of perplexity. I can simultaneously heal my past when while being open to the present. Instead of blaming the situation I am in, I would try to look for the lesson behind it. I will call this as a challenge that would uplift me to the higher phase of my li...

Why Should I do ?

A few days ago, after interviewing some candidates applying to be a part of my job, I laid down on the couch next to my desk. Ninis, one of my friends in this institution was with me. We were in a conversation which would be inevitable if I didn’t stop her. She asked me “Why do you care so much about your camp members? Do they deserve to get your sincere attention ? How come you radiate all of those things to many people?” and so on. I made my answer as simple as I wanted, in hope that she would stop asking those questions. My deepest answer is that I have no little brother in my family, I do have siblings yet it feels that I am still alone as I didn’t grow up together with them due to several principals of life which made our relationship ain’t really connected. I wish I had a better relationship called bromance where I could share sadness, struggles, and pains with the closest one, my brother. The fact that I couldn’t. Ninis’ questions pulled me out to my transition period when I h...

Petrion

Hi Petrion, Apa kabar? Semoga "baik" selalu menjadi kata yang membersamai teman-teman dimanapun teman-teman berada dan untuk apapun yang teman-teman saat ini sedang usahakan. Oh hi, this is me, Bro Alfa. In case teman-teman lupa hahaha. Tentunya, nggak ada kata yang lebih terhormat selain kata maaf dan terima kasih untuk tiga bulan yang sudah sama-sama kita lewati. Pada akhirnya, semua hanya akan jadi kenangan yang akan tetap selalu indah untuk dikenang, apapun bentuknya. Terima kasih karena sudah sudih untuk saling membersamai selama tiga bulan kemarin. Ada banyak kenangan lucu, sedih, pula geli. Semoga usaha teman-teman selama ini bisa mengantar teman-teman menggapai mimpi-mimpi yang teman-teman impikan. Kalau ngerasa tiga bulan masih belum mendapatkan kemampuan bahasa Inggris yang diinginkan, tenang! Nggak semua akhir kadang bertemu kata beres, beberapa ada yang proses. Masih ada waktu, tapi ingat waktu hanya berjalan 24 Jam perhari, gunakan dengan bijak jangan sampai HP...

Menjemput Alfa

Rasanya perjalanan pulang kemarin adalah bukan tentang perjalanan keluar, ia adalah perjalanan kedalam. Tepat pukul 08.00 kereta kahuripan yang harusnya membawa saya dari Lempuyangan – Jombang masih belum ada kabar, terjebaklah saya di smoking area memandangi langit yang sedari tadi merengek hingga menumpahkan airmatanya ke tanah. Saya buka gawai tua saya, melihat kembali pesan-pesan lama yang masih mengendap dalam WhatsApp saya. Muncul satu pesan dari sahabat seperjuangan saya, Sabri. Seorang kawan yang selalu menjadi tempat saya mencurahkan kegetiran tentang apapun selama kami masih sama-sama berjuang sebagai tutor camp   dengan banyak drama dibaliknya. “ hold your tears and be patient with your life. Like I did” “Having enough money is better than having a lot but you couldn’t feel the sense of being struggle.” Yap, pesan itu saya terima saat kali pertama saya memutuskan untuk mencoba hidup tanpa hingar-bingar kehidupan camp dan rasanya pesan itu cukup relate dengan perasa...